Candi Gong Sidamulya Tegal Diteliti Arkeolog UI, Peninggalan Masa Peradaban Hindu-Buddha

Kamis, 12 Maret 2026 | 12.44
Penggiat Sejarah dan Pelestari Situs Budaya di Kabupaten Tegal, Slamet Haryanto cek lokasi  Candi Gong di Desa Sidamulya, Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal, beberapa waktu lalu. (Guntur)
Penggiat Sejarah dan Pelestari Situs Budaya di Kabupaten Tegal, Slamet Haryanto cek lokasi Candi Gong di Desa Sidamulya, Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal, beberapa waktu lalu. (Guntur)

Candi Gong di Desa Sidamulya, Pagerbarang, Tegal diteliti arkeolog UI. Situs peninggalan Hindu-Buddha ini berpotensi dikembangkan jadi wisata religi.

SLAWI, puskapik.com - Candi Gong di tengah hamparan sawah Desa Sidamulya, Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal, diteliti Arkeolog UI sejak beberapa waktu lalu. Candi Gong yang disinyalir peninggalan masa peradaban Hindu-Buddha ini, bisa dikembangkan menjadi obyek wisata religi di wilayah tersebut.

Penelitian terhadap situs ini pernah dilakukan pada tahun 2008 oleh sejumlah arkeolog dan peneliti sejarah. Dari penelitian tersebut ditemukan beberapa artefak penting, seperti batu bata berukir dan arca. Sebagian artefak kini disimpan di museum sekolah di Slawi untuk menjaga kelestariannya.

Penggiat Sejarah dan Pelestari Situs Budaya di Kabupaten Tegal, Slamet Haryanto atau yang akrab disapa Slamet Gelang mengatakan, nama Candi Gong sendiri berasal dari cerita turun-temurun masyarakat. Konon, warga pernah mendengar suara gong yang seolah mengiringi alunan gamelan dari sekitar lokasi candi. Cerita itulah yang kemudian melekat dan menjadi penamaan situs tersebut hingga sekarang.

Baca Juga: Program Mudik Bareng, Pemkab Brebes Siapkan 4 Bus

"Salah satu temuan menarik di lokasi ini adalah Yoni, simbol penting dalam tradisi Hindu, yang ditemukan berada di bagian atas struktur bata," kata Slamet.

Dijelaskan, Yoni berukuran sekitar 30 sentimeter panjang, 20 sentimeter lebar, dan memiliki ketebalan sekitar 8 sentimeter. Keberadaan yoni ini menguatkan dugaan bahwa tempat tersebut dahulu digunakan sebagai lokasi ritual keagamaan. Kondisi struktur candi masih bisa dikenali meski sebagian telah terkikis waktu.

"Baru-baru ini, Prof Agus Aris Munandar, Guru Besar Arkeologi dan Ilmu Budaya dari Universitas Indonesia (UI) melakukan survei terhadap beberapa jejak situs candi di wilayah Kabupaten Tegal," jelasnya.

Baca Juga: Stok Minyakita di Pantura Barat Jateng Aman Dua Bulan ke Depan

Lebih lanjut dikatakan, total ada empat titik yang disurvei, yaitu Candi Gong di Desa Sidamulya, Candi Asu di Selapura, Candi Bulus di Pedagangan, dan Candi Kesuben. Dari keempat lokasi tersebut, Candi Gong dinilai sebagai situs yang paling memungkinkan untuk dilakukan restorasi karena struktur utamanya masih relatif terlihat.

"Tidak hanya dilestarikan sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda," kata Slamet Gelang.

Kepala Desa Sidamulya, Muhamad Kodri, mengatakan bahwa keberadaan Candi Gong merupakan warisan budaya yang perlu dijaga bersama. Menurutnya, situs ini juga penting sebagai sarana mengenalkan sejarah lokal kepada masyarakat, terlebih bagi warga yang sebagian besar merupakan pendatang.

Upaya restorasi sendiri tidak bisa dilakukan sembarangan. Slamet Gelang menjelaskan bahwa proses tersebut harus mendapatkan rekomendasi dari Balai Cagar Budaya serta Pusat Penelitian Arkeologi Nasional agar penanganannya sesuai dengan standar arkeologi.

Selain nilai sejarahnya, Candi Gong juga menyimpan dimensi budaya yang menarik. Legenda tentang suara gong emas yang konon kerap terdengar di sekitar situs menjadi bagian dari cerita rakyat yang terus hidup di tengah masyarakat.

Kisah itu membuat Candi Gong tidak hanya dipandang sebagai situs arkeologi semata, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya warga Desa Sidamulya.

Dengan adanya perhatian dari para peneliti, aktivis sejarah, serta dukungan masyarakat dan pemerintah daerah, situs Candi Gong diharapkan dapat terus terjaga. Tidak hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai ruang belajar sejarah bagi generasi yang akan datang.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait