Disperpusip Usulkan Kawasan Monumen GBN Slawi Jadi Zona Literasi, Ini Konsepnya

Selasa, 11 Agustus 2026 | 21.10
Disperpusip Kabupaten Tegal Teguh Mulyadi
Disperpusip Kabupaten Tegal Teguh Mulyadi

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kabupaten Tegal mengusulkan penetapan kawasan GBN Slawi Zona Literasi, yakni ruang kreatif berbasis literasi

SLAWI, puskapik.com - Guna memperkuat fungsi ruang Monumen Gerakan Banteng Nusantara (GBN) Slawi sebagai ruang kreatif berbasis literasi, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kabupaten Tegal mengusulkan penetapan kawasan ini sebagai Zona Literasi.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Disperpusip Kabupaten Tegal Teguh Mulyadi saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa 11 Agustus 2026.

Menurut Teguh Mulyadi, kawasan Monumen GBN yang mencakup Bundaran Tugu Poci, Masjid Agung Kabupaten Tegal, Perpustakaan Soekarno-Hatta, dan Museum Sekolah dengan didukung keberadaan sejumlah sarana pendidikan di sekitarnya, termasuk kampus STKIP NU layak dikembangkan sebagai Zona Literasi.

Baca Juga: Pertama di Asia, WordPress Campus Connect di Perpustakaan, Latih Warga Tegal Jadi Talenta Digital

"Kawasan ini memiliki fungsi strategis sebagai pusat kegiatan publik Kota Slawi dengan aksesibilitas tinggi dan ramai dikunjungi oleh masyarakat pada pagi, sore, ataupun malam hari, terlebih di akhir pekan,"kata Teguh Mulyadi.

Disampaikan oleh Teguh Mulyadi, eksisting pemanfaatan kawasan ini masih dominan pada sektor kuliner dan kegiatan keagamaan.

"Sehingga melalui pendekatan konsep Eco-Smart Literacy Park, fungsi ruang akan lebih berkembang dengan mengintegrasikan konsep tata ruang terbuka dengan akses literasi gratis yang representatif, nyaman, dan kekinian tanpa menghilangkan estetika kawasan,"jelasnya.

Fungsi Ruang Publik

Menurut Teguh Mulyadi, penetapan zona literasi ini akan memperkuat fungsi ruang publik kawasan GBN sebagai ruang diskusi masyarakat, pojok baca digital, lapak baca gratis, dan kegiatan komunitas pegiat literasi.

Dikatakan, Smart Pojok Baca bisa dihadirkan dengan menyediakan gazebo baca modern yang dilengkapi dengan rak buku fisik, berupa buku populer, anak, dan keluarga serta fasilitas wifi internet gratis khusus untuk mengakses koleksi buku digital Perpustakaan Soetta.

“Tak hanya di ruang terbuka publik, koleksi buku fisik juga bisa kita hadirkan di sejumlah kafe yang masih dalam radius zona literasi, sehingga kerja sama dengan pelaku usaha sangat kita perlukan,” ungkapnya.

Monumen GBN akan berkembang menjadi “Literacy Hub and Creative Space” dengan area mini-amfiteater-nya sebagai ruang untuk kegiatan bedah buku, mendongeng atau storytelling bagi anak-anak, dan pertunjukan seni-budaya literasi.

Baca Juga: DPRD Pemalang Tetapkan Pertanggungjawaban APBD 2025, KUA-PPAS 2027 Disepakati

Guna mewujudkan ini, diperlukan pula fasilitas pendukung seperti charging station bertenaga surya, bangku taman yang estetik, dan papan informasi atau infografis edukatif seputar sejarah dan budaya Tegal.***

Artikel Terkait