Irigasi Pertanian di Purwahamba Tegal Rusak Parah, Ratusan Hektare Tanaman Padi Terancam Gagal Panen

Kamis, 5 November 2026 | 13.55 WIB
Anggota Fraksi PKS DPRD Kabupaten Tegal, H. Bakhrun saat mengikuti rapat koordinasi di gedung DPRD Kabupaten Tegal, baru-baru ini. (Dok)
Anggota Fraksi PKS DPRD Kabupaten Tegal, H. Bakhrun saat mengikuti rapat koordinasi di gedung DPRD Kabupaten Tegal, baru-baru ini. (Dok)

Kerusakan irigasi di Desa Purwahamba, Suradadi, Tegal, mengancam lebih dari 200 hektare lahan pertanian. Petani berharap jaringan pengairan segera dinormalisasi.

SLAWI, puskapik.com - Jaringan irigasi persawahan di Desa Purwahamba, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, mengalami rusak parah. Padahal, irigasi tersebut sebagai sarana untuk menampung air hujan, sehingga petani bisa tanam padi di musim tanam berikutnya.

"Wilayah Pantura Suradadi dan sekitarnya merupakan daerah tadah hujan. Jika irigasi rusak, maka tidak bisa menyimpan air untuk tanam berikutnya,"

Hal itu terungkap saat Anggota Fraksi PKS DPRD Kabupaten Tegal, H Bakhrun usai bertemu dengan para petani di Desa Purwahamba, baru-baru ini.

Baca Juga: Ahmad Luthfi Modernisasi Pertanian, Biaya Produksi Beras Lebih Hemat dari Hulu ke Hilir

Bakhrun mengatakan, pembangunan ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan mendorong petani meningkatkan produksi. Ketersediaan infrastruktur pengairan juga harus menjadi perhatian utama.

Sebab, tanpa dukungan irigasi yang memadai, potensi lahan pertanian tidak akan bisa dimaksimalkan.

"Untuk mewujudkan ketahanan pangan, irigasi harus dinormalisasi dan dimaksimalkan. Jangan sampai petani terus dibebani persoalan air hingga berujung gagal panen," kata Bakhrun yang merupakan wakil rakyat dari Dapil III meliputi Kecamatan Kramat, Suradadi dan Warureja.

Baca Juga: Mulai 5 November, Bapenda Jateng Siapkan Cashback Harian bagi Wajib Pajak Patuh

Bakhrun menjelaskan, luas lahan pertanian di Desa Purwahamba mencapai lebih dari 200 hektare.

Namun, sebagian besar lahan tersebut jauh dari jangkauan irigasi yang memadai sehingga petani masih sangat bergantung pada curah hujan.

Situasi ini membuat aktivitas pertanian rentan terhadap perubahan cuaca. Ketika hujan tidak turun sesuai kebutuhan, pasokan air untuk tanaman menjadi terbatas.

Sebaliknya, petani juga tidak memiliki kepastian pengairan yang bisa diandalkan sepanjang musim tanam.

Dampaknya bukan sekadar penurunan produktivitas. Petani harus menghadapi risiko biaya produksi yang tidak sebanding dengan hasil panen.

Modal untuk mengolah lahan, membeli benih, pupuk, hingga biaya perawatan terancam tidak kembali ketika tanaman tidak tumbuh optimal. **

Artikel Terkait