Satu Rumah di Padasari Tegal Tetap Berdiri Kokoh, Rumah Siapa?

Rumah saya jadi tempat singgah dan berjaga-jaga saat malam hari. Ini rumah yang masih berdiri kokoh," kata Kiai Mustofa
SLAWI, puskapik.com - Ponpes Al Adalah 1 di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, nyaris rata dengan tanah akibat pergerakan tanah sejak Senin 2 Februari 2026.
Namun, ada satu rumah yang berdiri kokoh di komplek Ponpes Al Adalah 1.
Ya, rumah baru dengan arsitektur modern masih berdiri kokoh hingga Rabu 4 Februari 2026.
Baca Juga: Anggota Fraksi PKB DPRD Kabupaten Tegal Panik, Tiba-tiba Tanah Bergerak saat Kunjungan ke Padasari
Rumah itu dihuni oleh sosok kakek yang berusia lebih dari 50 tahun. Kiai Sumito atau Kiai Mustofa yang merupakan kakak ipar dari pengelola ponpes Al Adalah 1, KH Tasripin.
Kiai sederhana yang merupakan Penasehat Yayasan Al Mahbub yang menaungi Ponpes Al Adalah 1 itu, terlihat tetap tenang dan berjaga-jaga di sekitar rumahnya itu.
Saat ditemui di rumahnya RT 17 RW 4 Desa Padasari, Kiai Mustofa tetap tenang berjaga-jaga di rumahnya, walaupun rumah di kanan kiri depan dan belakang rumahnya sudah runtuh.
Bahkan, jalan depan rumahnya yang menuju ponpes Al Adalah 1 telah patah-patah dan amblas.
Di rumahnya, terdapat kardus minuman air mineral yang tinggal separuh.
"Rumah saya jadi tempat singgah dan berjaga-jaga saat malam hari. Ini rumah yang masih berdiri kokoh," kata Kiai Mustofa dengan ciri khas kiai kampung.
Mengenakan sarung dan kopyah, Kiai Mustofa membuka rumahnyanya.
Di dalam rumah yang baru dibangun setahu silam, belum ada yang retak. Namun, jalan di depan dan samping rumah berwarna putih itu, sudah amblas.
Di dalam rumah itu, sudah kosong tanpa penghuni. Rumah Kiai Mustofa dihuni 7 orang, Kiai Mustofa dan istrinya, anak dan menantunya serta 3 orang cucu.
"Keluarga sudah diungsikan, tapi saya masih bolak-balik ke rumah untuk melihat kondisinya," terang Kiai Mustofa.
Dengan menyodorkan sepiring pisang dan air mineral, Kiai Mustofa mengisahkan tentang bencana tanah bergerak di Desa Padasari.
Ia menuturkan, Desa Padasari kerap dilanda tanah bergerak. Kiai Mustofa yang sebelumnya tinggal di Dukuh Padareka Desa Padasari, juga pernah mengalami bencana serupa di tahun 1982.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Batang Meroket, Lampaui Target Nasional, Tembus 8,52 Persen
Bencana pada saat itu, tidak terlalu berat dan rumahnya tidak terkena imbas bencana tanah bergerak tersebut.
Padahal, rumah lainnya mengalami retak-retak dan banyak juga yang ambruk.
"Kalau rumah ini tetap berdiri kokoh, maka saya mengalami dua kali kejadian yang sama. Kami pasrahkan kepada Yang Maha Kuasa," ujar Kiai Mustofa.
Bencana Tanah Bergerak juga terjadi di tahun 2022 silam. Tahun ini, dinilai bencana tanah bergerak paling parah. Bangunan pondok dan sekolah ambruk. Bahkan, rumah pengasuh Ponpes Al Adalah, KH Tasripin Salim SHi juga ikut terdampak tanah bergerak.
"Semoga tanah bergerak segera berakhir," doa Kiai Mustofa.
Dijelaskan, santai ponpes Al Adalah berjumlah sekitar 500 orang. Mereka berasal dari berbagai daerah, diantaranya Sumatera, Jakarta, Kendal, Pati, dan Kabupaten Tegal sendiri.
Tidak hanya asrama, Ponpes Al Adalah juga memiliki sekolah dari mulai PAUD, SMP hingga SMA.
"Para santri telah dipindahkan ke Ponpes Al Adalah 2," kata Kiai Mustofa.
Hingga Kamis malam, 5 Februari 2026, informasi dari para warga, bangunan rumah Kiai Mustofa masih berdiri.
Namun, kondisinya berbeda karena pergerakan tanah masih terjadi. Jalan menuju rumah Ponpes Al Adalah juga telah berubah total dengan amblas lebih dalam mencapai lebih dari 1 meter. ***
Artikel Terkait

Semarak HUT ke-81 PMI di Pemalang, Warga Ikuti Senam dan Donor Darah

Berkunjung ke Batang, Wapres Gibran Jenguk Korban Keracunan MBG, Jumlah Total Capai 674 Orang

Puluhan Driver Ojol di Tegal Deklarasi Patrol, Satukan Roda Dua dan Roda Empat
