Siap-Siap, Wisata Guci Tegal Diperkirakan Membludak saat Liburan Nataru

Senin, 5 Oktober 2026 | 12.20 WIB
Pemandangan alam di wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, beberapa waktu lalu. (Dok).
Pemandangan alam di wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, beberapa waktu lalu. (Dok).

Libur Nataru 2026/2027 diprediksi meningkatkan kunjungan wisatawan ke Guci. Okupansi hotel dan penginapan diproyeksikan mencapai 80-95 persen pada periode puncak.

SLAWI, puskapik.com - Obyek wisata air panas Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal terus berbenah pascabencana banjir bandang pada awal tahun 2026 lalu.

Kondisi itu memberikan kepercayaan terhadap para wisatawan untuk berkunjung ke Guci. Diprediksi para pengunjung akan membludak pada liburan libur Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.

Hal itu diungkapkan Ketua Klaster Pariwisata Destinasi Pariwisata Provinsi (DPP) Wilayah V Jawa Tengah, Setya Teguh Yuwana, baru-baru ini.

Baca Juga: 1.453 Calon Jemaah Haji Kendal Mulai Urus Paspor untuk Keberangkatan 2027

Ia mengatakan, momentum liburan khususnya akhir pekan, libur sekolah, Natal dan Tahun Baru, biasanya wisata Guci ramai pengunjung.

Hal itu menjadi karakter demand yang sangat kuat pada periode holiday. Karena itu, kondisi okupansi pada hari normal tidak bisa langsung digunakan untuk menggambarkan potensi pasar pada akhir tahun.

"Memasuki periode Natal dan Tahun Baru, kami melihat adanya peluang peningkatan demand yang cukup signifikan,” kata Teguh.

Baca Juga: [Editorial] Darurat Bullying di Pemalang, Evaluasi Total Tanggung Jawab Institusi Pendidikan

Menurut Teguh, berdasarkan pola kunjungan dan performa akomodasi pada periode liburan sebelumnya, tingkat hunian hotel dan penginapan di kawasan Guci berpotensi bergerak signifikan mulai pertengahan Desember, dan puncaknya pada periode 24 Desember 2026 hingga 1 Januari 2027. Pada skenario pasar yang kondusif, okupansi kawasan pada periode puncak tersebut berpotensi berada pada kisaran 80-95 persen, sementara malam pergantian tahun memiliki peluang menjadi periode dengan tingkat permintaan tertinggi.

"Angka tersebut merupakan proyeksi berdasarkan pola pasar dan tren historis, bukan data booking aktual," ujarnya.

Teguh mengingatkan momentum Nataru sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai kesempatan meningkatkan okupansi hotel semata. Namun demikian, kedatangan setiap wisatawan ke Guci menghasilkan multiplier effect bagi restoran, UMKM, kuliner, transportasi lokal, atraksi wisata, oleh-oleh, serta masyarakat di sekitar destinasi.

"Pelaku usaha hotel dan penginapan juga perlu menghindari perang harga menjelang periode puncak," tegas Teguh.

Ditambahkan, strategi pricing (menetapkan harga) sebaiknya dilakukan secara dinamis mengikuti perkembangan demand, booking pace, length of stay dan ketersediaan kamar di kawasan.

“Kalau demand mulai meningkat tetapi harga kamar justru terus ditekan, destinasi kehilangan kesempatan mendapatkan economic value dari momentum Nataru. Kita harus mulai bergerak dari sekadar mengejar okupansi menuju quality revenue,” pungkas Teguh.

Artikel Terkait