Biaya Melaut Bengkak hingga Rp 2 Miliar, Nelayan Tegal Tak Bisa Berlayar

Senin, 20 April 2026 | 13.21
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Riswanto.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Riswanto.

Harga BBM non subsidi melonjak, ratusan kapal nelayan Tegal berhenti melaut. Biaya operasional membengkak, HNSI minta solusi dan harga khusus BBM.

TEGAL, puskapik.com - Lonjakan tajam harga BBM non subsidi sejak Sabtu, 18 April 2026, memukul sektor perikanan di Kota Tegal, Jawa Tengah.

Ratusan kapal nelayan memilih bersandar, tak berani melaut karena biaya operasional yang melonjak drastis dan penuh ketidakpastian.

Gelombang kenaikan harga langsung terasa di pelabuhan. Aktivitas melaut mendadak tersendat, bahkan sekitar 50 persen kapal penangkap ikan dilaporkan tidak beroperasi.

Baca Juga: Harga Kebutuhan Pokok di Pemalang Masih Stabil

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia atau HNSI Jawa Tengah, Riswanto, menyebut kenaikan harga solar non subsidi menjadi pukulan berat bagi pelaku usaha perikanan.

Harga Dexlite yang sebelumnya berada di kisaran Rp 14.800 per liter kini melonjak menjadi sekitar Rp 23.600 per liter.

"Untuk sektor industri kelautan perikanan, harga solar bahkan bisa mencapai Rp 30 ribu hingga Rp 34 ribu per liter. Ini jelas sangat memberatkan," kata Riswanto, Senin 20 April 2026.

Baca Juga: Aliansi Pemekaran Brebes Selatan Siapkan Penyambutan Dua Warga Long March di Semarang, Gubernur Jateng Diundang

Riswanto menjelaskan, lonjakan harga tersebut membuat biaya melaut meningkat tajam hingga berlipat.

Jika sebelumnya kebutuhan BBM untuk satu kali trip melaut sekitar 40 ton hanya menelan biaya Rp 440 juta, kini angkanya melonjak menjadi sekitar Rp 1,2 miliar.

Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait