Ditipu Puluhan Juta, Wiyanto Kini Sukses Bangun Kedai Antik di Kota Tegal

Selasa, 8 September 2026 | 19.58 WIB
Pemilik Kedai Offaz, H. Wiyanto (kiri), ditemani salah satu penggemar barang-barang unik, nampak bersantai sembari menikmati secangkir kopi.
Pemilik Kedai Offaz, H. Wiyanto (kiri), ditemani salah satu penggemar barang-barang unik, nampak bersantai sembari menikmati secangkir kopi.

H. Wiyanto sukses mengembangkan Kedai Offaz di Kota Tegal dengan ribuan koleksi barang antik, meski sempat tertipu puluhan juta saat merintis usaha.

TEGAL, puskapik.com - Hobi mengoleksi barang antik sejak remaja mengantarkan H. Wiyanto (58), warga Kota Tegal, menghadirkan konsep kedai unik bernuansa tempo dulu di kawasan Jalan Pancasila, dekat Alun-alun Kota Tegal.

Melalui Kedai Offaz yang dirintis sejak sekitar 2016, Wiyanto memanfaatkan ribuan koleksi barang lawas miliknya sebagai elemen utama interior.

Mulai dari guci, lukisan, keramik, lampu, radio tua, sepeda, jam, hingga keris, tertata di berbagai sudut ruangan.

Baca Juga: Seimbangkan Digital dan Motorik, Siswa SD di Kota Tegal Dapat Bantuan Sarana Menulis

"Dari kecil memang sudah suka barang-barang unik. Awalnya dari melihat koleksi milik kakek dan pekerjaan bapak yang jual beli permata dan barang antik," kata Yanto, Selasa 8 September 2026.

Guci menjadi koleksi pertamanya. Seiring waktu, koleksinya terus bertambah dari berbagai daerah di Indonesia, seiring mobilitas pekerjaannya yang kerap berpindah kota seperti Surabaya, Bali hingga Semarang.

Yanto mengakui, dalam proses mengoleksi barang antik, tak jarang harus menghadapi risiko, mulai dari harga tinggi hingga tertipu barang replika.

Baca Juga: Kedokteran UPS Tegal Jadi Magnet Mahasiswa Baru

"Sering juga ketipu, dibilang asli ternyata tidak. Tapi namanya hobi, ya dijalani saja. Ada kepuasan batin," ujar Yanto.

Sebelum berangkat haji, koleksi kerisnya bahkan sempat mencapai sekitar 600 buah. Namun kini, jumlahnya berkurang karena sebagian dibeli kolektor.

Menurut Yanto, nilai barang antik tidak semata ditentukan harga, melainkan cerita dan nilai sejarah yang melekat.

"Bukan soal mistis, tapi menghargai karya orang dulu. Zaman dulu belum ada teknologi, tapi bisa membuat benda seperti ini," kata Yanto.

Konsep Kedai Offaz sendiri berawal dari keinginan memanfaatkan koleksi yang sebelumnya hanya tersimpan di gudang.

Yanto kemudian menata barang-barang tersebut secara sederhana hingga membentuk suasana klasik.

Yanto ingin pengunjung tidak sekadar datang untuk minum kopi, tetapi juga menikmati dan memahami nilai di balik setiap benda.

"Harapannya orang datang ke sini bisa melihat, berpikir dan menghargai sejarah,” ujar Yanto.

Dalam perjalanannya,Yanto mengaku sempat mengalami berbagai kendala, termasuk penipuan saat awal merintis usaha hingga dampak kebijakan tata kota yang memengaruhi jumlah pengunjung.

"Pernah ditipu sampai puluhan juta saat awal mau buka. Tapi ya saya ikhlaskan saja," kata Yanto.

Selain itu, faktor seperti penataan kawasan dan keterbatasan parkir juga berdampak pada penurunan omzet, bahkan disebut mencapai sekitar 40 persen.

Meski demikian, Yanto tetap mempertahankan kedai tersebut.

Baginya, Offaz bukan sekadar usaha, tetapi juga ruang berbagi dan tempat belajar, khususnya bagi generasi muda.

Saat ini, pengelolaan kedai mulai diserahkan kepada anak-anaknya, sementara dirinya lebih banyak berperan sebagai pengawas.

Ke depan, Yanto berharap usahanya mendapat dukungan, sekaligus dapat terus berkembang tanpa meninggalkan nilai utamanya sebagai ruang pelestarian budaya.

Yanto juga mengajak generasi muda untuk lebih peduli terhadap benda-benda bersejarah.

"Anak muda harus bisa menghargai budaya. Nilainya tinggi dan tidak ada bandingannya," ucap Yanto.**

Artikel Terkait