Kontainer Langka, Ekspor Sarung Tegal Tersendat di Saat Permintaan Tinggi

Senin, 17 Agustus 2026 | 15.05
Jamaludin Ali Alkatiri, saat melihat langsung proses pembuatan sarung Toldem yang masih menggunakan alat tenun bukan mesin atau ATBM.
Jamaludin Ali Alkatiri, saat melihat langsung proses pembuatan sarung Toldem yang masih menggunakan alat tenun bukan mesin atau ATBM.

Pelaku usaha sarung ATBM Tegal menghadapi kendala ekspor akibat kelangkaan kontainer dan mahalnya biaya pengiriman. Sementara permintaan pasar domestik terus meningkat

TEGAL, puskapik.com - Pengusaha sarung asal Kota Tegal, Jamaludin Ali Alkatiri, mengungkapkan kendala serius yang dihadapi pelaku usaha sarung alat tenun bukan mesin atau ATBM, khususnya terkait ekspor.

Meski permintaan pasar luar negeri cukup besar, keterbatasan kontainer dan tingginya biaya pengiriman menjadi hambatan utama.

"Walaupun kita menemui kesulitan untuk ekspor, kita sudah biasa berjuang. Sekarang ATBM Tegal ini sedang berupaya agar bisa terus kirim ke luar negeri," ujar Jamal, saat menghadiri kegiatan lomba Agustusan bersama karyawan di Jalan Gajah Mada, Senin 17 Agustus 2026.

Baca Juga: Bupati Brebes Sampaikan Pesan Persatuan, Berpakaian Adat Papua Saat Upacara HUT RI

Jamal menyebut, ketersediaan kontainer saat ini sangat terbatas dan harganya mahal.

Kondisi tersebut turut dipengaruhi situasi global, termasuk konflik geopolitik yang berdampak pada distribusi logistik internasional.

"Kadang pengiriman buka dua minggu, lalu berhenti lagi. Ini sangat memengaruhi kami. Setiap hari kami hanya bisa berdoa agar kondisi dunia kembali aman," kata Jamal.

Menurut Jamal, para pengrajin di wilayah Pantura sebenarnya telah siap memenuhi permintaan ekspor.

Baca Juga: Bidik Pasar Nasional, Batik Salem Khas Brebes Tampil di JFW 2026

Produksi berjalan, semangat tinggi, dan permintaan pasar cukup besar. Namun, hambatan pengiriman membuat peluang tersebut belum bisa dimaksimalkan.

"Kasihan pengrajin. Barang sudah ada, permintaan banyak, tapi terkendala di kontainer," ujar Jamal.

Untuk ekspor, satu kontainer biasanya mampu memuat sekitar 1.400 kodi sarung dengan nilai rata-rata mencapai 200 dolar per unit. Namun saat ini, pengiriman belum bisa dilakukan secara optimal.

Di sisi lain, pasar dalam negeri justru menunjukkan tren positif. Jamal mengatakan, permintaan sarung ATBM Tegal mengalami peningkatan karena semakin banyak masyarakat yang mulai mengenal produk lokal tersebut.

"Alhamdulillah, untuk lokal meningkat. Orang yang dulu tidak tahu sarung Tegal, sekarang mulai membeli meskipun harganya sedikit lebih mahal," jelas Jamal.

Jamal juga mengapresiasi peran media yang turut mengenalkan sarung Tegal hingga dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait