KUALIMA Rilis Single Kedua “Kaping Pindho”, Kisah Luka yang Tak Ingin Terulang Dua Kali

Jumat, 28 Agustus 2026 | 15.53
puskapik

KUALIMA merilis single kedua “Kaping Pindho”, lagu berbahasa Jawa tentang luka, pengkhianatan, kesempatan kedua, dan keberanian untuk berhenti.

TEGAL, puskapik.com - Setelah menghadirkan karya sebelumnya, grup musik KUALIMA kembali melanjutkan perjalanan musiknya melalui single kedua berjudul “Kaping Pindho”.

Lagu berbahasa Jawa ini mengangkat kisah tentang seseorang yang harus menghadapi luka dan pengkhianatan dari pasangan yang sama untuk kedua kalinya.

“Kaping Pindho”, yang dalam bahasa Indonesia berarti kedua kali, berbicara tentang batas kesabaran seseorang dalam mempertahankan sebuah hubungan.

Baca Juga: KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Obral Jabatan di Pemkab Pemalang

Tentang hati yang pernah memaafkan, mencoba bertahan, dan memberikan kesempatan, tetapi kembali harus menerima kenyataan pahit.

Melalui lagu ini, KUALIMA mencoba menyampaikan satu pertanyaan sederhana namun memiliki makna mendalam: sampai kapan sebuah luka harus terus dimaafkan ketika kesalahan yang sama terus terulang?

Tokoh dalam lagu “Kaping Pindho” digambarkan sebagai seseorang yang telah disakiti sekali, namun masih memilih untuk bertahan.

Baca Juga: Kepala Diskominfo Kabupaten Tegal: Ingat, Informasi Viral Belum Tentu Benar!

Ketika luka yang sama kembali terjadi untuk kedua kalinya, ia mulai menyadari bahwa cinta tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus-menerus menerima perlakuan yang menyakitkan.

Pesan inilah yang kemudian menjadi ruh dari lagu tersebut: memaafkan adalah pilihan, tetapi membiarkan diri terus disakiti bukanlah sebuah kewajiban.

Berawal dari Judul yang Lebih Panjang

Dalam proses kreatifnya, lagu ini sempat memiliki judul awal “Kaping Pindho Keno (Ojo Di Terus-Teruske)”.

Judul tersebut muncul dari kegelisahan dan percakapan sosial yang berkembang di sekitar kehidupan masyarakat Pemalang.

Kata “Kaping Pindho” terasa memiliki resonansi tersendiri dengan perjalanan Kabupaten Pemalang yang dalam sejarah politik kontemporernya pernah dua kali menjadi sorotan nasional karena kepala daerahnya tersangkut operasi tangkap tangan atau OTT.

Namun, seiring perjalanan produksi, KUALIMA memutuskan untuk tidak menggunakan judul tersebut.

Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait