Profesor Kyoto University Ungkap Ancaman Sampah Plastik Global di Kota Tegal

Minggu, 8 Februari 2026 | 19.40
Pengolahan sampah di Kota Tegal, memanfaatkan mesin RDF untuk mengurangi timbulan sampah dan menjadikan bernilai rupiah.
Pengolahan sampah di Kota Tegal, memanfaatkan mesin RDF untuk mengurangi timbulan sampah dan menjadikan bernilai rupiah.

Profesor Kyoto University, Masaaki Okamoto, ungkap ancaman krisis sampah plastik global dalam kuliah umum internasional di Kota Tegal.

TEGAL, puskapik.com - Ancaman krisis sampah plastik global terus membayangi lingkungan dan kesehatan manusia.

Isu tersebut menjadi sorotan dalam kuliah umum internasional Universitas Harkat Negeri, yang menghadirkan akademisi Kyoto University, Jepang, Prof. Masaaki Okamoto, PhD, Jumat 6 Februari 2026.

Acara yang berlangsung di Aula Kampus Mataram, diikuti mahasiswa, dosen, pegiat lingkungan dan tamu undangan dari berbagai instansi.

Baca Juga: Remaja yang Hanyut di Sungai Gung Ditemukan di Bawah Jembatan Gantung Bukit Tanjung Lebaksiu

Prof. Okamoto memaparkan data lonjakan produksi dan limbah plastik yang meningkat signifikan dalam beberapa dekade terakhir, terutama di kawasan Asia.

Okamoto menyebut pertumbuhan ekonomi, digitalisasi dan urbanisasi sebagai faktor utama meningkatnya penggunaan plastik sekali pakai.

Data menunjukkan jumlah sampah plastik terus bertambah dan telah menimbulkan ancaman nyata bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Baca Juga: Jembatan Mendelem Pemalang Anjog dan Miring

"Jika tidak ditangani secara sistematis, krisis ini akan semakin sulit dikendalikan," ujar Okamoto, dalam keterangan resmi yang diterima puskapik.com, Minggu 8 Februari 2026.

Menurut Okamoto, penanganan sampah plastik tidak bisa dilakukan secara parsial.

Dibutuhkan pendekatan komprehensif, mulai dari peralihan material plastik ke bahan ramah lingkungan, penguatan sistem pengolahan limbah terpadu, hingga pemanfaatan teknologi.

Baca Juga: 33 Ribu Rumah di Kendal Masih Tak Layak Huni

Okamoto juga menyoroti pentingnya edukasi prinsip 3R yakni Reduce, Reuse, Recycle, pengembangan teknologi pembersihan laut serta pemanfaatan limbah plastik sebagai sumber energi alternatif.

"Semua upaya ini harus berjalan beriringan dan melibatkan banyak pihak," tambah Okamoto.

Sementara itu, Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said mengatakan, kuliah umum internasional menjadi ruang diskusi strategis bagi sivitas akademika, peneliti dan pegiat lingkungan dalam merespons tantangan lingkungan global.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait