Telur Asin Gagal Disulap Jadi Salted Egg Crackers, Universitas Harkat Negeri Dampingi UMKM Brebes

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 12.35
Tim dosen Universitas Harkat Negeri Tegal bersama Unnes, memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM telur asin melalui program pengabdian kepada masyarakat. Foto : istimewa
Tim dosen Universitas Harkat Negeri Tegal bersama Unnes, memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM telur asin melalui program pengabdian kepada masyarakat. Foto : istimewa

UMKM Brebes mengolah telur asin gagal produksi menjadi salted egg crackers. Didampingi Universitas Harkat Negeri Tegal, inovasi ini ditargetkan meningkatkan nilai jual dan pasar.

TEGAL, puskapik.com - Telur asin yang gagal produksi tak selalu harus berakhir sebagai limbah. Di Brebes, telur asin gagal justru diolah menjadi produk camilan baru berupa salted egg crackers yang dinilai memiliki nilai jual lebih tinggi.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui program Hibah Diktisaintek Berdampak yang digelar tim dosen Universitas Harkat Negeri Tegal bersama Universitas Negeri Semarang pada Juni hingga Juli 2026.

Program pendampingan menyasar UMKM Eni Jaya Telur Asin di Kelurahan Limbangan Wetan, Kabupaten Brebes.

Baca Juga: Sheila On 7 Kembali Tampil di Live Project 2026: Mens Sambat in Corporesano” Cara Baru Menikmati Festival Musik

Sebanyak enam pelaku UMKM yang bergerak di bidang telur asin dan makanan khas Brebes terlibat dalam kegiatan tersebut.

Program digagas Dewi Kartika dan Puput Dewi Anggraeni, dari Universitas Harkat Negeri bersama Adi Kuntoro, dari Universitas Negeri Semarang.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Dewi Kartika mengatakan, gagasan mengolah telur asin gagal menjadi salted egg crackers muncul setelah melihat produk serupa berbahan telur yang dipasarkan di swalayan Singapura.

Baca Juga: 1.488 Pramuka Jateng di Jambore Nasional, Ahmad Luthfi: Pulang Harus Jadi Pemimpin

Pengalaman tersebut kemudian mendorong tim melihat potensi bahan baku lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

"Saya terinspirasi setelah melihat produk crackers berbahan dasar telur yang dipasarkan swalayan di Singapura. Dari sana kami melihat bahwa telur asin yang gagal produksi memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi cemilan bernilai ekonomi tinggi," kata Dewi, Sabtu 15 Agustus 2026.

Menurut Dewi, pendampingan tidak hanya diarahkan pada kemampuan menghasilkan produk baru.

Para pelaku UMKM juga dibekali pengetahuan mengenai branding, desain kemasan, pemasaran digital hingga pengelolaan keuangan.

"Melalui program ini, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi tidak berhenti pada penciptaan produk baru, tetapi juga harus didukung dengan penguatan branding, desain kemasan, strategi pemasaran dan pengelolaan keuangan," ujar Dewi.

Dalam pelatihan teknis, para pelaku UMKM diajak mempraktikkan langsung proses pengolahan telur asin gagal menjadi salted egg crackers.

Nara sumber pelatihan, Hans Hera Amalia mengatakan, produk yang gagal dalam proses produksi masih dapat dimanfaatkan selama diolah dengan metode yang tepat.

Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait