Desa Wanarata Pemalang, Saksi Sejarah Pertempuran KKO AL Melawan Belanda

Senin, 17 Agustus 2026 | 22.00
Tugu Letnan KKO Soetomo
Tugu Letnan KKO Soetomo di Dusun Karangucung, Desa Wanarata, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang.(foto : Eriko/puskapik.com)

Dusun Karangucung, Desa Wanarata, Bantarbolang, Kabupaten Pemalang jadi saksi pertempuran pasukan KKO AL pada masa Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948

PEMALANG, puskapik.com - Sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya terjadi di kota-kota besar.

Di pelosok Kabupaten Pemalang, para pejuang juga bergerilya dengan bertaruh nyawa menghadapi pasukan Belanda.

Dusun Karangucung, Desa Wanarata, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang menjadi saksi pertempuran pasukan Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) pada masa Agresi Militer Belanda II yang dimulai 19 Desember 1948.

Baca Juga: Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Pemalang Jadi Momentum Apresiasi Pengabdian

Kala itu, Pasukan Corps Armada (CA) IV Tegal berada di bawah pimpinan Kolonel Darwis Djamin, sedangkan Corps Mariniers (CM) dipimpin Mayor KKO Agoes Soebekti. Letnan KKO Ali Sadikin (Letnan Jenderal KKO Purnawirawan) masih menjabat Perwira Staf III Operasi sekaligus Komandan Sektor A.

Sejumlah perwira dan pejuang turut terlibat dalam perlawanan gerilya, di antaranya Letnan KKO Soetomo, Kapten Warih Prabowo, Letnan Walojeo Soegito, Letnan Moekijat, Asali, Suwandi, Adam alias Copet dan Palal.

Dengan kemampuan yang terbatas, pasukan tersebut berulang kali melakukan perusakan terhadap fasilitas yang digunakan Belanda.

Letnan KKO Soetomo dikenal sebagai salah satu perwira intelijen dalam Grup A yang disegani dan kerap menyulitkan pergerakan pasukan Belanda. Ia pun dikenal pejuang yang keras dan tak kenal kompromi terhadap Belanda dan antek-anteknya, para pengkhianat pejuang.

Namanya pun memiliki kemiripan dengan Bung Tomo, tokoh perlawanan dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Keahlian Soetomo dalam operasi terbuka, taktik gerilya dan intelijen membuat sejumlah rencana penyerangan Belanda terhadap pos-pos pejuang gagal.

Namun, perlawanan itu akhirnya menghadapi tragedi pada 25 Juni 1949. Sekitar pukul 04.00, pasukan Belanda bergerak dari Watukumpul menuju Dukuh Karangpucung melalui Desa Gapura.

Mereka menyusuri jalan setapak di kawasan hutan hingga menuju Kepancuran Sumur Tatahan.

Hal tersebut berdasarkan informasi dari seorang gerilyawan bernama Bendul yang telah ditangkap. Setelah mendapat tekanan dan penyiksaan, Bendul akhirnya memberikan informasi mengenai keberadaan markas gerilyawan.

Sekitar pukul 17.00, ketika para pejuang tengah beristirahat di kawasan pancuran, pasukan Belanda secara diam-diam melakukan pengintaian dan pengepungan.

Dalam kondisi terkejut dan tidak siap menghadapi serangan, Letnan KKO Soetomo menjadi sasaran tembakan dan gugur. Rentetan peluru lalu memberondong pejuang lainnya tanpa perlawanan berarti.

Para gerilyawan berusaha melakukan perlawanan sekaligus menyelamatkan diri. Atas perintah Kapten Ali Sadikin, mereka bergerak mundur sambil melempar granat untuk membuka jalan keluar. Pertempuran pun pecah. Suara tembakan dan ledakan granat terdengar di sekitar lokasi.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait