Ngabuburit, Gen Z di Batang Gelar Pelatihan Bahasa Isyarat

Sabtu, 21 Februari 2026 | 23.06
Pelatihan bahasa isyarat
Pelatihan bahasa isyarat

Sejumlah generasi muda di Kabupaten Batang mengisi waktu ngabuburit pada bulan Ramadan dengan mengikuti pelatihan bahasa isyarat di Rumah RB Center Batang

BATANG, puskapik.com - Sejumlah generasi muda di Kabupaten Batang mengisi waktu ngabuburit pada bulan Ramadan dengan mengikuti pelatihan bahasa isyarat di Rumah RB Center Batang, Kabupaten Batang, Sabtu (21/2/2026).

Kegiatan ini digelar untuk menumbuhkan kepedulian sekaligus menormalisasi penggunaan bahasa isyarat di ruang publik.

Founder Heygan Foundation Hizbul Islam mengatakan, pelatihan tersebut lahir dari kegelisahan komunitasnya yang melihat minat belajar bahasa isyarat di Batang masih rendah, padahal banyak penyandang tuli yang membutuhkan sarana komunikasi yang inklusif.

Baca Juga: Penjual Obat Mercon 1,3 Kg Ditangkap Polisi di Terminal Bus Kajen Pekalongan

“Hari ini kita mengadakan kelas bahasa isyarat yang tujuannya menormalisasi bahasa isyarat di muka umum. Karena menurut kegelisahan kami, kelas bahasa isyarat masih kurang diminati atau belum normal di Kabupaten Batang,” jelasnya.

Sebanyak 40 orang dari kalangan gen Z mengikuti bahasa isyarat ini dengan sangat antusias. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan secara swadaya oleh komunitas bersama sejumlah donatur.

Ia menambahkan, kedepan pihaknya berencana mengadakan berbagai kelas lain untuk mendorong kesetaraan dalam pendidikan.

“Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan bahasa isyarat dasar yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari perkenalan, ucapan sapaan, kata tanya, hingga istilah keluarga dan aktivitas harian,” terangnya.

Baca Juga: Setahun Luthfi–Yasin Nahkodai Jateng: Hadapi Bencana, Perkuat Investasi, Kemiskinan Menurun

Ia juga menyebutkan bahwa, isyarat yang dilatih adalah kata-kata sehari-hari, seperti perkenalan, menyapa, kata tanya, serta istilah keluarga seperti bapak dan ibu.

Hizbul juga memberikan tips kepada masyarakat ketika berinteraksi dengan penyandang tuli. Menurutnya, penyandang tuli perlu diperlakukan seperti orang pada umumnya karena perbedaannya hanya pada cara berkomunikasi.

“Orang tuli itu bukan orang yang aneh atau berbeda. Mereka sama, hanya bahasanya saja yang berbeda. Jadi perlakukan mereka seperti biasa. Jika belum memahami bahasa isyarat, masyarakat bisa menggunakan gestur sederhana untuk berkomunikasi. Saat ingin menyapa, misalnya, dapat dilakukan dengan menyentuh pundak secara sopan agar mereka menyadari keberadaan lawan bicara,” ungkapnya.

Ia berharap, kegiatan ini dapat menjadi pemicu bagi pemerintah untuk memperhatikan pemerataan fasilitas pendidikan bagi penyandang disabilitas, khususnya Sekolah Luar Biasa di berbagai wilayah Kabupaten Batang.

“Harapannya kegiatan ini bisa menjadi pemicu bahwa Sekolah Luar Biasa dibutuhkan di setiap wilayah. Selain itu, kami juga ingin bahasa isyarat menjadi bahasa yang wajar digunakan oleh masyarakat,” harapnya

Salah satu peserta Selly menyampaikan, pelatihan bahasa isyarat menjadi pengalaman menarik karena memberikan pengetahuan baru dalam berkomunikasi dengan teman tuli.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait