23 Rumah Terdampak Banjir, Pemdes Dukuhturi Brebes Usulkan Bronjong di Musrenbang dan Bankeu Provinsi

Kamis, 4 Juni 2026 | 12.19
Rumah terdampak banjir Sungai Keruh di blok Lebak, Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes.
Rumah terdampak banjir Sungai Keruh di blok Lebak, Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes.

Sebanyak 23 rumah terdampak banjir Sungai Keruh di Desa Dukuhturi, Brebes. Pemdes mengusulkan bronjong dan talud serta menyiapkan penanganan darurat.

BREBES, puskapik.com – Pemerintah Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, mengusulkan pembangunan bronjong dan talud sebagai langkah penanganan banjir Sungai Keruh yang berulang kali menerjang blok Lebak/Kalker.

Usulan diajukan melalui dua jalur, yakni Bantuan Keuangan (Bankeu) Provinsi Jawa Tengah dan forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

Sekretaris Desa Dukuhturi, Andi Kuswoyo, mengatakan penanganan banjir di blok Lebak/Kalker telah diusulkan melalui forum Musrenbang tingkat Kecamatan Bumiayu 2026. Selain itu, desa juga mengajukan bronjong dan talud secara resmi melalui Bankeu Provinsi.

Baca Juga: Dukung Penguatan Investasi, Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman Hadiri Pelantikan Pengurus Apindo Jateng

Untuk penanganan mendesak, desa mengalokasikan anggaran kebencanaan dari Dana Desa guna pemasangan bronjong darurat yang dijadwalkan bulan ini.

"Desa mengajukan bronjong atau talud melalui Bantuan Keuangan Provinsi, dan bulan ini akan dipasang bronjong melalui anggaran kebencanaan dana desa," ujar Andi, Kamis 4 Juni 2026.

Banjir Sungai Keruh telah menerjang blok Lebak/Kalker sebanyak tiga kali sejak 23 Januari hingga 4 Februari 2026. Total ada 23 rumah terdampak. Rinciannya, 9 roboh atau hanyut terbawa arus, 14 lainnya rusak berat termasuk bagian dapur dan struktur utama.

Baca Juga: Breaking News : Kapal Terbakar di Pelabuhan Tegal

Seluruh data rumah terdampak beserta status tanah telah dilaporkan ke pemerintah kabupaten sebagai dasar bantuan rehabilitasi sesuai arahan bupati.

Selain penanganan sungai, Pemkab Brebes juga telah mensosialisasikan opsi relokasi bagi warga terdampak melalui program "Tuku Lemah Oleh Umah". Menurut Andi, program tersebut menjadi salah satu alternatif jangka panjang agar warga tidak terus terpapar risiko banjir berulang.

Pegiat LSM Penyelamatan Tanah, Air dan Lingkungan Daerah Aliran Sungai (Patal DAS), Sholahudin Asro, menilai penanganan dengan bronjong dan talud saja tidak cukup.

Menurutnya, alur sungai juga perlu mendapat perhatian serius melalui normalisasi agar arus tidak langsung menghantam permukiman warga.

"Sungai perlu dikeruk. Material hasil kerukan dibuang ke sisi kiri dan kanan sebagai tanggul alami. Dengan begitu alur sungai bisa dikendalikan dan tidak mengancam rumah warga," ujar Sholahudin.

Artikel Terkait