Grebeg Sura Trah Raden Warjan Digelar di Paguyangan Brebes, Hadirkan Terbang Jawa hingga Wayang Kulit

Minggu, 12 Juli 2026 | 16.41
Pementasan wayang kulit mewarnai Grebeg Sura Trah Raden Warjan di nDalem Sastronegaran, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Sabtu malam (11/7/2026).
Pementasan wayang kulit mewarnai Grebeg Sura Trah Raden Warjan di nDalem Sastronegaran, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Sabtu malam (11/7/2026).

Grebeg Sura Trah Raden Warjan di Paguyangan, Brebes, kembali digelar dengan Terbang Jawa, kirab budaya, dan wayang kulit sebagai upaya melestarikan warisan budaya Jawa.

BREBES, puskapik.com – Grebeg Sura Trah Raden Warjan kembali digelar di nDalem Sastronegaran, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, pada Jumat-Sabtu, 10–11 Juli 2026.

Tradisi tahunan yang digelar untuk ketiga kalinya ini menghadirkan kesenian Terbang Jawa, kirab budaya menuju Sumur Amangkurat, serta pagelaran wayang kulit sebagai upaya melestarikan budaya Jawa.

Rangkaian kegiatan diawali pada Jumat (10/7/2026) malam dengan pementasan Terbang Jawa di Pendopo Pakoenegoro, nDalem Sastronegaran.

Baca Juga: Majelis Dzikir Al-Hikmah Jadi Ruang Doa Bersama untuk Kemajuan Kendal

Kesenian yang memadukan syair-syair Jawa dengan iringan rebana itu dipentaskan semalam suntuk sebagai bagian dari tradisi menyambut Bulan Sura.

Selanjutnya pada Sabtu (11/7/2026), kegiatan dilanjutkan dengan ziarah dan tahlil di makam Raden Warjan Paguyangan yang diikuti keluarga besar Trah Raden Warjan bersama masyarakat.

Setelah itu, peserta mengikuti kirab menuju Sumur Amangkurat, salah satu situs bersejarah di wilayah Paguyangan.

Baca Juga: Angin Kencang Percepat Amukan Api, Dua Rumah di Plantungan Kendal Ludes Terbakar

Puncak acara berlangsung pada malam hari melalui pementasan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang KRT Jalu Carito dari Banjarnegara yang membawakan lakon Semar Dadi Ratu. Lakon tersebut mengangkat nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, dan keberpihakan kepada rakyat.

Penyelenggara kegiatan, KRHA Dimas Sastronegoro, mengatakan, Grebeg Sura merupakan agenda tahunan yang secara konsisten dilaksanakan setiap Bulan Sura sebagai bentuk pelestarian budaya Jawa.

"Terbang Jawa merupakan salah satu kesenian tradisional yang mulai terancam punah. Melalui Grebeg Sura, kami ingin menghadirkan kembali ruang bagi kesenian tersebut agar dikenal generasi muda. Begitu pula wayang kulit yang kini semakin jarang dipentaskan di Paguyangan," ujarnya.

Menurut Dimas, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga media edukasi agar masyarakat tetap mengenal dan mencintai warisan leluhur.

Camat Paguyangan, Koko Kusnanto, mengapresiasi penyelenggaraan Grebeg Sura yang dinilai mampu memperkuat pelestarian budaya di daerah.

"Kami mengapresiasi inisiatif KRHA Dimas Sastronegoro sebagai akademisi sekaligus budayawan yang terus berkomitmen melestarikan kebudayaan lokal. Semoga kebudayaan di Paguyangan terus lestari dan berkembang," katanya.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait