Tanah Bergerak di Sirampog Brebes Meluas, 122 Rumah Rusak

Sabtu, 7 Februari 2026 | 19.08
rumah rusak akibat tanah bergerak di Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, dibongkar warga.
rumah rusak akibat tanah bergerak di Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, dibongkar warga.

Warga membongkar rumah rusak akibat tanah bergerak di Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Sirampog, Brebes, keselamatan dan menyelamatkan material bangunan.

BREBES, puskapik.com – Bencana tanah bergerak di Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, terus meluas. Hingga Sabtu (7/2/2026), tercatat 122 rumah warga mengalami kerusakan berat dan sebagian di antaranya sudah tidak layak huni.

Pergerakan tanah yang terjadi sejak Kamis (29/1/2026) itu juga berdampak pada fasilitas umum. Satu masjid, dua mushola, serta bangunan TPQ/PAUD dilaporkan mengalami kerusakan akibat retakan tanah yang semakin melebar di kawasan tersebut.

Wilayah Sirampog sendiri dikenal sebagai daerah rawan bencana geologi. Dalam beberapa hari terakhir, pergerakan tanah dilaporkan terus aktif, terutama saat hujan turun.

Baca Juga: Inilah Penyebab Tanah Bergerak di Padasari Tegal

Kepala Dusun III Desa Sridadi, Budi Santoso, mengatakan, mayoritas rumah warga berkontruksi kayu. Meski terlihat ringan, kondisi bangunan kini sudah membahayakan keselamatan penghuninya.

“Bangunan banyak yang sudah miring. Pintu dan jendela sulit dibuka, lantai rumah retak dengan celah antara 10 sampai 25 sentimeter,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat warga hidup dalam kecemasan. Sejumlah rumah bahkan mulai dibongkar secara swadaya oleh pemiliknya karena dikhawatirkan roboh sewaktu-waktu.

Baca Juga: Bangun Huntara Untuk Warga Padasari, Pemkab Tegal Akan Gunakan Lahan Perhutani Seluas 5 Hektar

Namun di tengah ancaman tersebut, sebagian besar warga masih bertahan di rumah masing-masing. Hingga kini, belum tersedia lokasi hunian sementara untuk menampung warga terdampak.

Selama sepekan terakhir, aktivitas warga bersama relawan dipenuhi dengan gotong royong membongkar rumah satu persatu.

Material bangunan, terutama kayu, diselamatkan untuk digunakan kembali jika hunian sementara sudah disiapkan.“Bantuan dari pemerintah belum ada. Yang membantu baru dari warga sekitar dan relawan,” kata Budi.

Kepala Desa Sridadi, Sudiryo, membenarkan kondisi tanah bergerak di Dukuh Bojongsari semakin parah. Ia menyebut pemerintah desa telah melaporkan kejadian tersebut sejak awal.

“Sudah kami laporkan melalui kecamatan dan dinas terkait. Kami berharap segera ada bantuan untuk meringankan beban warga,” ujarnya.

Dukuh Bojongsari dihuni sekitar 146 kepala keluarga atau 439 jiwa. Seluruhnya merupakan warga yang sebelumnya direlokasi dari Dukuh Lebakgoak akibat bencana tanah bergerak pada 2013 lalu. **

Artikel Terkait