Nasib Perajin Bambu di Dukuhsalam Tegal, Plafon Anyaman Bambu Tergantikan Plafon PVC

Jumat, 12 September 2025 | 16.07

SLAWI, puskapik.com - Salah satu elemen penting yang sering kali menjadi pusat perhatian adalah plafon ruang tamu. Zaman dulu, plafon dengan menggunakan anyaman bambu sudah istimewa. Tapi, kini sudah ...

SLAWI, puskapik.com - Salah satu elemen penting yang sering kali menjadi pusat perhatian adalah plafon ruang tamu. Zaman dulu, plafon dengan menggunakan anyaman bambu sudah istimewa. Tapi, kini sudah banyak model dan bahan yang tidak hanya berfungsi menutup rangka atap dan instalasi listrik, tapi juga menjadi bagian dari estetika ruangan. Dengan pilihan model yang tepat, suasana ruang tamu bisa tampak lebih modern, hangat, atau bahkan mewah. Tren desain interior yang terus berkembang melahirkan banyak pilihan model plafon ruang tamu terbaru yang dapat disesuaikan dengan konsep rumah. Sebenarnya, plafon anyaman bambu tidak kalah unik dan estetik. Padahal, plafon anyaman bambu merupakan warisan kerajinan para orang-orang terdahulu. Di Desa Dukuhsalam, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, terdapat kelompok perajin anyaman bambu. Ya, perajin ini menamai dirinya Bambu Wulung Art Dukuhsalam. Kelompok Bambu Wulung Art yang ada sejak tahun 1980an itu, sempat goyah karena inovasi dari plafon modern dengan bahan PVC, gipsum, kayu, kaca dan lainnya. Namun, warisan nenek moyang warga Dukuhsalam itu, tertolong oleh Indra Era Vani yang merupakan generasi ketiga menjalankan usaha yang dibangun sang kakek kemudian dilanjutkan orangtua. Indra sebagai cucu melanjutkan usaha Bambu Wulung Art hingga saat ini. "Usaha ini sudah ada sejak saya belum lahir. Tahun 2014, saya mulai memproduksi dari berbagai model, berbagai produk hingga membuat souvenir dari bambu," kata Indra Era Vani saat ditemui pada Kamis, 11 September 2025. Indra merintis kembali usaha Bambu Wulung Art pada tahun 2014 dengan berbagai inovasi dan pemasaran yang mulai memanfaatkan media sosial dan tidak menyangka bisa bertahan sampai sekarang ini. Di tempat usahanya bisa memproduksi berbagai kerajinan di antaranya seperti anyaman bambu, tirai bambu, kursi, meja, souvenir, gazebo, saung tempat makan, mug, gelas, tumbler, sendok, sumpit, sedotan, tempat hantaran, besek, pajangan dan masih banyak lagi semuanya berbahan dasar dari bambu. "Awal saya belajar sendiri dengan melihat kakek dan orangtua saat sedang mengerjakan produk bambu. Saya belajar semuanya seperti menganyam, ngirat atau proses menipiskan menyerut bambu menjadi lembaran tipis, menyulam, finishing, merakit sampai pemasangan dan layak jual. Saat merintis usaha Bambu Wulung Art ini kondisi saya sudah hanya memiliki satu tangan sebelah kanan sedangkan tangan sebelah kiri menggunakan tangan palsu," beber Indra yang juga tergabung dalam Difabel Slawi Mandiri atau DSM yang merupakan komunitas disabilitas di Kabupaten Tegal itu. Awalnya dikerjakan seorang diri dan dibantu orangtua. Ketika sedang banyak pesanan, Indra mengaku sejauh ini memilik 30 karyawan. Indra mempekerjakan tetangga sekitar rumahnya untuk membantu proses pengerjaan bambu terutama ketika sedang banyak pesanan. Sebanyak 30 karyawan ini tidak tetap atau bekerja ketika banyak pesanan saja, tapi ketika kondisinya tidak terlalu ramai dan cenderung sepi maka Indra mengerjakan sendiri dibantu orangtuanya. Selama menjalankan usahanya Indra mengaku tidak mudah terlebih dengan kondisi keterbatasan fisiknya yang hanya menggunakan satu tangan. Kesulitan dan tantangan yang Indra hadapi terutama saat proses produksi. Indra biasanya memanggil pekerja untuk membantu menyelesaikan. "Keterbatasan fisik yang hanya memiliki satu tangan tidak menghalangi semangat dan kegigihan saya menjalani usaha ini. Bahkan untuk pengiriman menggunakan mobil ataupun sepeda motor saya masih bisa menyetir sendiri menggunakan satu tangan. Bongkar muat bambu, pasang gazebo, anyaman, mengantar ke konsumen semuanya masih bisa saya kerjakan sendiri," ungkap Indra. Pemasaran produk bambu milik Indra tidak hanya di wilayah Kabupaten Tegal, Kota Tegal dan Kabupaten Brebes saja, tapi sudah keluar provinsi seperti Jawa Timur dan Jawa Barat. Sedangkan pengiriman keluar negeri masih bertahap dengan mengirim sampel atau contoh produk besek untuk tempat makanan ke Singapura. Produk yang konsumen pesan di tempat Indra beragam, tapi yang paling banyak plafon, saung, gazebo, suvenir, lampu hias untuk xafe, rumah makan dan tempat wisata. Adapun untuk harga jual yang ditawarkan Indra sesuai dengan volume bambu yang dipesan. "Harga antara Rp 100 ribu sampai dengan Rp 5 juta tergantung volume ukuran," ujar Indra. Ketika volume bambu yang dipesan semakin besar maka harga sudah pasti lebih mahal, tapi semakin kecil volume bambu yang dipesan maka harga lebih murah. Harga paling murah seperti produk keranjang hampers dari Rp5 ribu sampai Rp15 ribu per pcs. Kemudian produk anyaman per meter Rp 100 ribu, gazebo ukuran 2x2 meter bisa sampai Rp5 juta per unit, lampion harga Rp50 ribu sampai Rp70 ribu per buah. "Berbicara omzet di tempat, saya tidak pasti bergantung banyak sedikitnya pesanan. Tapi rata-rata per bulan bisa Rp 50 juta bahkan kalau sedang banyak pesanan bisa sampai Rp 300 juta per bulan. Kondisi sekarang ya alhamdulillah tetap disyukuri tapi masih kisaran Rp50 juta sampai Rp70 juta kadang naik Rp100 juta per bulan. Omzet sekarang ini jauh jika dibandingkan awal saya merintis paling pemasukan Rp10 juta sampai Rp15 juta per bulan," jelas Indra. Akhir-akhir ini, tambah dia, penurunan pendapat cukup besar karena mencapai 25 persen. Tapi, pihaknya tetap optimis akan kembali meningkat. Hal itu juga dipengaruhi oleh kondisi masyarakat yang mengalami penurunan daya beli. "Kami tetap akan melestarikan dan mengembangkan potensi kerajinan bambu di Dukuhsalam," pungkasnya. **

Artikel Terkait