Studi Tiru, Petani Kopi Kendal Diperkenalkan Agrosistem untuk Tingkatkan Produksi

Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal terus mendorong peningkatan produktivitas kopi melalui penguatan kapasitas petani.
KENDAL, puskapik.com - Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal terus mendorong peningkatan produktivitas kopi melalui penguatan kapasitas petani.
Salah satunya melalui kegiatan studi tiru yang diikuti Kelompok Tani Sumber Rejeki Desa Pakis, Kecamatan Limbangan ke Kelompok Tani Taman Tani Desa Tamanrejo, Kecamatan Sukorejo.
Dalam kegiatan tersebut, para petani mendapatkan pembelajaran mengenai strategi peningkatan hasil panen kopi.
Baca Juga: Kapolres Kendal Respons Isu Pocong yang Viral, Jangan Mudah Panik Banyak Konten Rekayasa di Medsos
Pembelajaran ini mulai dari teknik pemangkasan tanaman, pembuatan pupuk organik, pestisida organik hingga pemanfaatan mikroorganisme untuk menjaga kesuburan tanah.
Kepala Tim Kerja Produksi Perkebunan DPP Kendal, Hadi Winarno mengatakan, sebagian besar petani kopi saat ini masih menerapkan pola pertanian konvensional.
Padahal, kata Hadi Winarno, untuk meningkatkan pendapatan petani diperlukan strategi budidaya yang tepat agar hasil panen lebih maksimal.
“Petani kami perkenalkan dengan agrosistem yang mencakup pengelolaan air, udara dan tanah. Selain itu juga teknik pemangkasan tanaman kopi mulai pangkas bentuk hingga pangkas pasca panen agar tanaman lebih produktif,” ujarnya.
Menurut Hadi, persoalan harga hasil panen memang sulit dikendalikan petani.
Karena itu, pihaknya lebih fokus mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas produksi agar pendapatan petani tetap meningkat.
“Kalau harga pasar petani tidak bisa mengatur. Maka yang bisa dilakukan adalah bagaimana hasil panennya meningkat dan kualitasnya bagus,” jelasnya.
Baca Juga: Latihan Kayak, Dua Remaja Hanyut di Sungai Laes Penggarit Pemalang
Ia mencontohkan, pada budidaya kopi robusta secara konvensional, satu ranting tanaman biasanya dibiarkan berbuah hingga lima kali panen.
Padahal, produktivitas buah cenderung menurun setelah panen ketiga.
Melalui studi tiru tersebut, petani diajak berani melakukan pemangkasan cabang setelah panen ketiga agar pertumbuhan tunas baru lebih optimal dan produksi buah kembali maksimal.
“Normalnya satu ranting kopi bisa menghasilkan sekitar 30 sampai 45 biji kopi. Kalau dibiarkan terlalu lama tanpa dipangkas, hasilnya justru menurun dan petani bisa merugi,” terangnya.
Ketua Kelompok Tani Taman Tani Desa Tamanrejo, Kusnan menambahkan, peningkatan hasil panen kopi sangat dipengaruhi oleh perawatan tanaman.
Menurutnya, kopi Kendal memiliki potensi besar untuk berkembang apabila dikelola dengan baik.
“Kalau perawatannya bagus, hasilnya pasti meningkat. Potensi kopi Kendal sebenarnya besar, hanya saja selama ini nama kopi Kendal masih menginduk ke daerah lain, terutama Temanggung,” katanya.
Sementara itu, peserta studi tiru asal Limbangan, Debyo berharap ilmu yang diperoleh dari kegiatan tersebut dapat diterapkan para petani di wilayahnya agar produksi kopi semakin meningkat.
“Kami ingin mengenalkan potensi kopi Sukorejo kepada petani di Limbangan. Harapannya produksi kopi di Limbangan juga bisa melimpah seperti di Desa Tamanrejo,” pungkasnya.***