Barongan Kendal Naik Panggung, Festival Perdana Hadirkan Seni Tradisi dengan Nafas Baru

Festival Barongan Kendal perdana di Desa Sidomulyo sukses memukau penonton. Kesenian tradisional dikemas dengan cerita lokal untuk menjadi ikon budaya Kendal.
KENDAL, puskapik.com – Kesenian barongan Kendal mendapat ruang baru untuk kembali bersinar. Melalui Festival Barongan Kendal yang digelar perdana di Desa Sidomulyo, Kecamatan Cepiring, kesenian tradisional ini tidak hanya dipentaskan sebagai hiburan, tetapi dikemas menjadi pertunjukan budaya yang sarat cerita dan nilai sejarah.
Festival yang digagas Sanggar Kejeling pada 20-21 Juni 2026 tersebut menjadi langkah awal untuk menjadikan barongan sebagai salah satu ikon budaya lokal Kabupaten Kendal.
Ratusan penonton menyaksikan kemeriahan festival yang menghadirkan konsep berbeda. Jika biasanya barongan tampil dalam satu kelompok, kali ini panitia menghadirkan konsep rampak barongan, yakni puluhan barongan tampil bersama dalam satu panggung pertunjukan.
Baca Juga: Hari ini Aliansi Mahasiswa Brebes Akan Demo Bawa 10 Tuntutan ke Pendopo Kabupaten
Atraksi massal pada sore hari menjadi pembuka festival, kemudian malam harinya dilanjutkan dengan penampilan grup-grup pilihan yang membawakan sajian utama.
Konsep tersebut berhasil menciptakan suasana berbeda. Perpaduan gerak, musik tradisional, dan kemunculan banyak barongan dalam satu arena membuat masyarakat antusias menyaksikan pertunjukan hingga selesai.
Direktur Festival Barongan Kendal, Pupung Dwi Harmawan, mengatakan antusiasme masyarakat dan pelaku seni terhadap festival ini sangat tinggi. Bahkan, jumlah pendaftar jauh melebihi kapasitas penampilan.
Baca Juga: Gubernur Jateng Respons Keluhan Nelayan Tegal dan Brebes
“Yang ingin ikut berpartisipasi sekitar 200 kelompok, tetapi kita kurasi menjadi 30, dan akhirnya terpilih 6 kelompok sebagai penampil utama,” ungkap Pupung.
Enam kelompok yang tampil berasal dari sejumlah wilayah di Kendal, yakni dua kelompok dari Sidomulyo serta masing-masing dari Pageruyung, Weleri, Ringinarum, dan Sukorejo.
Bukan Sekadar Tari, Barongan Membawa Cerita
Festival ini memberikan warna baru dalam pertunjukan barongan. Setiap kelompok tidak hanya menampilkan gerakan tari, tetapi juga menyampaikan cerita yang berasal dari kearifan lokal dan kisah masyarakat daerah.
Menurut Pupung, konsep tersebut sengaja dibuat agar barongan memiliki daya tarik lebih kuat sekaligus menjadi media mengenalkan kembali cerita-cerita daerah yang mulai terlupakan.
“Teman-teman menggarap konsep perform secara serius. Setiap penampilan membawa narasi cerita daerah setempat yang mulai tenggelam. Jadi ada nilai dan estetikanya,” jelasnya.
Salah satu peserta, kelompok Barongan Manunggal Simo Laras asal Desa Sidomulyo, bahkan melakukan persiapan khusus sebelum tampil. Mereka membutuhkan waktu latihan satu bulan dan riset selama dua bulan untuk menyusun pertunjukan.


