Barongan Kendal Naik Panggung, Festival Perdana Hadirkan Seni Tradisi dengan Nafas Baru

Senin, 22 Juni 2026 | 15.24 WIB
Aksi penampilan kesenian tradisional di festivl barongan kendal. (edhot)
Aksi penampilan kesenian tradisional di festivl barongan kendal. (edhot)

Festival Barongan Kendal perdana di Desa Sidomulyo sukses memukau penonton. Kesenian tradisional dikemas dengan cerita lokal untuk menjadi ikon budaya Kendal.

KENDAL, puskapik.com – Kesenian barongan Kendal mendapat ruang baru untuk kembali bersinar. Melalui Festival Barongan Kendal yang digelar perdana di Desa Sidomulyo, Kecamatan Cepiring, kesenian tradisional ini tidak hanya dipentaskan sebagai hiburan, tetapi dikemas menjadi pertunjukan budaya yang sarat cerita dan nilai sejarah.

Festival yang digagas Sanggar Kejeling pada 20-21 Juni 2026 tersebut menjadi langkah awal untuk menjadikan barongan sebagai salah satu ikon budaya lokal Kabupaten Kendal.

Ratusan penonton menyaksikan kemeriahan festival yang menghadirkan konsep berbeda. Jika biasanya barongan tampil dalam satu kelompok, kali ini panitia menghadirkan konsep rampak barongan, yakni puluhan barongan tampil bersama dalam satu panggung pertunjukan.

Baca Juga: Hari ini Aliansi Mahasiswa Brebes Akan Demo Bawa 10 Tuntutan ke Pendopo Kabupaten

Atraksi massal pada sore hari menjadi pembuka festival, kemudian malam harinya dilanjutkan dengan penampilan grup-grup pilihan yang membawakan sajian utama.

Konsep tersebut berhasil menciptakan suasana berbeda. Perpaduan gerak, musik tradisional, dan kemunculan banyak barongan dalam satu arena membuat masyarakat antusias menyaksikan pertunjukan hingga selesai.

Direktur Festival Barongan Kendal, Pupung Dwi Harmawan, mengatakan antusiasme masyarakat dan pelaku seni terhadap festival ini sangat tinggi. Bahkan, jumlah pendaftar jauh melebihi kapasitas penampilan.

Baca Juga: Gubernur Jateng Respons Keluhan Nelayan Tegal dan Brebes

“Yang ingin ikut berpartisipasi sekitar 200 kelompok, tetapi kita kurasi menjadi 30, dan akhirnya terpilih 6 kelompok sebagai penampil utama,” ungkap Pupung.

Enam kelompok yang tampil berasal dari sejumlah wilayah di Kendal, yakni dua kelompok dari Sidomulyo serta masing-masing dari Pageruyung, Weleri, Ringinarum, dan Sukorejo.

Bukan Sekadar Tari, Barongan Membawa Cerita

Festival ini memberikan warna baru dalam pertunjukan barongan. Setiap kelompok tidak hanya menampilkan gerakan tari, tetapi juga menyampaikan cerita yang berasal dari kearifan lokal dan kisah masyarakat daerah.

Menurut Pupung, konsep tersebut sengaja dibuat agar barongan memiliki daya tarik lebih kuat sekaligus menjadi media mengenalkan kembali cerita-cerita daerah yang mulai terlupakan.

“Teman-teman menggarap konsep perform secara serius. Setiap penampilan membawa narasi cerita daerah setempat yang mulai tenggelam. Jadi ada nilai dan estetikanya,” jelasnya.

Salah satu peserta, kelompok Barongan Manunggal Simo Laras asal Desa Sidomulyo, bahkan melakukan persiapan khusus sebelum tampil. Mereka membutuhkan waktu latihan satu bulan dan riset selama dua bulan untuk menyusun pertunjukan.

Heri, perwakilan kelompok Manunggal Simo Laras, mengatakan seluruh unsur pertunjukan dipersiapkan secara mandiri, mulai dari kostum, musik, hingga koreografi.

“Kostum kita siapkan sendiri. Instrumen musik kita aransemen supaya nuansa lokal tetap terangkat, begitu juga koreografi kita siapkan khusus,” ujarnya.

Dalam festival tersebut, Manunggal Simo Laras membawakan kisah Tumenggung Wirowongso. Cerita tersebut mengangkat semangat perjuangan masyarakat menghadapi masa kolonial dengan simbol barongan sebagai kekuatan alam.

“Kita ingin menggambarkan bagaimana perjuangan zaman Belanda dulu, dengan barongan sebagai simbol kekuatan yang melawan,” tutur Heri.

Dorong Barongan Jadi Warisan Budaya yang Bernilai

Festival Barongan Kendal diharapkan menjadi titik awal kebangkitan kesenian barongan agar semakin dikenal luas. Para pelaku seni ingin barongan tidak berhenti sebagai pertunjukan rakyat, tetapi berkembang menjadi seni yang memiliki pesan dan nilai budaya.

Melalui kreativitas generasi muda, barongan Kendal diharapkan mampu bersaing dengan kesenian tradisional lain sekaligus menjadi identitas budaya daerah.

“Harapannya barongan membawa nilai-nilai keluhuran saat tampil, bukan hanya tontonan, tetapi juga memiliki pesan seperti seni-seni lainnya,” pungkas Heri.

Festival perdana ini menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat ketika dikemas dengan kreativitas dan sentuhan cerita lokal.

Artikel Terkait