Duka di Sragen dan Brebes, Pemprov Jateng Turun Tangan Dampingi Korban Perundungan Pelajar

Minggu, 19 April 2026 | 12.42

Pemprov Jateng dampingi korban perundungan di Sragen dan Brebes, perkuat pengawasan serta kolaborasi lintas sektor demi cegah kekerasan pelajar.

SEMARANG, puskapik.com - Duka akibat kasus perundungan dan kekerasan pelajar di Kabupaten Sragen dan Kabupaten Brebes mendapat perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Tak sekadar imbauan, jajaran Dinas Pendidikan (Disdik) Jateng turun langsung ke lapangan, menyambangi keluarga korban sebagai bentuk empati sekaligus memastikan pendampingan berjalan.

Langkah cepat itu dilakukan menyusul dua peristiwa yang menyita perhatian publik. Di Sragen, seorang siswa SMP Negeri 2 Sumberlawang meninggal dunia usai terlibat perkelahian dengan teman sekolahnya pada 7 April 2026. Sementara di Brebes, tawuran pelajar di wilayah Bulakamba pada 30 Maret 2026 juga berujung korban jiwa.

Baca Juga: DPD Golkar Kendal Tunggu Putusan Hukum Kasus Koperasi Boja, Nama Mora Sandi Disorot

Kepala Dinas Pendidikan Jateng, Sadimin, bersama jajaran mendatangi rumah duka di Sragen untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum Wahyu Adi Prasetya, siswa kelas 8B SMP Negeri 2 Sumberlawang pada Jumat (17/4/2026). Ia menegaskan, pemerintah hadir tidak hanya saat peristiwa terjadi, tetapi juga dalam proses pemulihan keluarga korban.

“Sekolah telah melakukan pendampingan keluarga sejak awal, termasuk saat prosesi pemakaman hingga doa bersama,” ujar Sadimin ketika dihubungi melalui pesan singkat, Minggu (19/4/2026).

Di Brebes, perhatian serupa juga diberikan kepada keluarga korban tawuran pelajar yang terjadi di Jalan Lingkar Utara, Kecamatan Bulakamba. Insiden yang melibatkan remaja bersenjata tajam itu diduga dipicu konflik sebelumnya antar kelompok pelajar.

Baca Juga: Perkuat Ekonomi Syariah, Wagub Taj Yasin Ajak Pengusaha HIPKA Jateng Tumbuh Bersama

Menurut Sadimin, langkah pembinaan telah dilakukan oleh pihak sekolah dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari guru, orang tua, hingga aparat keamanan. Sebagaimana arahan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, koordinasi lintas sektor juga diperkuat untuk mencegah kejadian serupa.

“Sekolah telah berkoordinasi dengan kepolisian, TNI, tokoh masyarakat, dan orang tua siswa untuk memperketat pengawasan, termasuk memantau penggunaan media sosial yang kerap menjadi pemicu konflik,” jelasnya.

Dinas Pendidikan Jateng saat ini terus berkoordinasi dengan dinas pendidikan kabupaten guna mengurai akar persoalan secara komprehensif. Evaluasi menyeluruh dilakukan agar upaya pencegahan bisa lebih efektif dan berkelanjutan.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait