Isi Kuliah Ramadan di UNS, Mahasiswa Pelajari Kepemimpinan Nabi dari Wagub Taj Yasin dan Ning Nawal

Rabu, 11 Maret 2026 | 13.26
puskapik

Dalam Kuliah Ramadan di Universitas Sebelas Maret, Taj Yasin Maimoen membahas teladan kepemimpinan Nabi Muhammad dan pentingnya integritas.

SURAKARTA, puskapik.com – Suasana Masjid Nurul Huda Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada Selasa sore, 10 Maret 2026, terasa hangat menjelang waktu berbuka puasa.

Ratusan mahasiswa duduk bersila mengikuti Kuliah Ramadan, mendengarkan refleksi kepemimpinan Nabi Muhammad dari Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, bersama istrinya, Nawal Arafah Yasin.

Bukan sekadar ceramah, diskusi itu menghadirkan sisi manusiawi kepemimpinan Nabi yang jarang disadari banyak orang.

Baca Juga: Pemprov Jateng Sediakan Program Balik Rantau Gratis, Simak Jadwal Pendaftarannya

Menurut Taj Yasin, salah satu pelajaran penting dari Rasulullah adalah bahwa seorang pemimpin juga manusia yang memiliki rasa takut dan cemas ketika menerima amanah besar.

“Ketika Nabi diangkat menjadi rasul, beliau juga merasakan takut dan khawatir. Bahkan beliau meminta ditenangkan oleh istrinya. Itu menunjukkan bahwa dukungan keluarga adalah anugerah besar bagi seorang pemimpin,” ujarnya di hadapan mahasiswa.

Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu menjelaskan, setelah momen itu turun ayat “Ya ayyuhal muddasir” yang memerintahkan Nabi Muhammad bangkit untuk memberi peringatan kepada umatnya. Dari situ, kata dia, terlihat bahwa kepemimpinan Nabi dibangun dari kedekatan spiritual kepada Allah.

Baca Juga: Wagub Jateng Dihadang Mahasiswa UNS, Dialog Terbuka Berakhir Lega

“Hablu minannas itu bisa kuat kalau hablu minallah kuat. Rasulullah menjadi pemimpin luar biasa karena ibadahnya kuat dan dijaga oleh Allah,” katanya.

Ia menambahkan, keteladanan Nabi juga terlihat dari sifat-sifat utama seperti siddiq (jujur), amanah, tabligh, dan fathanah. Nilai-nilai itu, menurutnya, tetap relevan di era modern.

“Kita mungkin tidak bisa menandingi kejujuran Rasulullah. Karena itu di era modern nilai-nilai itu harus dijaga lewat sistem yang transparan dan akuntabel,” ujarnya.

Gus Yasin juga mengingatkan bahwa menjadi pemimpin di masa sekarang tidaklah ringan. Jejak rekam pemimpin mudah dilacak dan kritik datang dari berbagai arah.

“Sekarang mencari celah kesalahan pemimpin sangat mudah karena semuanya terekam. Tapi kritik itu penting, selama disampaikan secara objektif,” katanya.

Ia mencontohkan bahkan Nabi Muhammad pun tidak luput dari kritik. Karena itu, masyarakat perlu menyampaikan kritik secara konstruktif, bukan sekadar karena perbedaan kepentingan politik.

Sementara itu, Nawal Arafah Yasin dalam paparannya membahas perspektif kepemimpinan perempuan dalam Islam. Ia menekankan bahwa perdebatan mengenai kepemimpinan perempuan sering kali berkaitan dengan konteks sejarah sebuah hadis.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait