Jateng Siapkan Lompatan Investasi, Ahmad Luthfi Usulkan Penguatan Pelabuhan dan Akses Pasar Dunia

Rabu, 1 Juli 2026 | 19.19
puskapik

Gubernur Ahmad Luthfi mendorong penguatan pelabuhan dan perluasan pasar global untuk menarik investasi, meningkatkan ekspor, serta menjadikan Jateng pusat.

SEMARANG, puskapik.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggenjot langkah untuk menjadikan daerahnya sebagai pusat investasi dan ekspor baru di Indonesia.

Selain memperluas akses pasar internasional, Pemprov juga mendorong penguatan infrastruktur logistik agar arus investasi dan perdagangan semakin kompetitif di tingkat global.

Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat menerima kunjungan kerja Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (1/7/2026).

Baca Juga: Industri AMDK Hijau Dipercepat, Ahmad Luthfi Prioritaskan Konservasi Air

Ahmad Luthfi meminta BKSAP DPR RI memanfaatkan jejaring diplomasi parlemen dengan berbagai negara untuk membuka peluang investasi sekaligus memperluas pasar ekspor bagi produk-produk unggulan Jawa Tengah.

Menurutnya, Jawa Tengah kini menjadi salah satu tujuan investasi yang semakin diminati. Bahkan, sejumlah investor disebut mulai melirik provinsi ini sebagai lokasi relokasi industri padat karya dari Vietnam.

Baca Juga: Bukan Sekadar Benih dan Pupuk, Kendal Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Infrastruktur Air Pertanian

“Padat karya nanti akan dipusatkan di Jawa Tengah untuk bersaing dengan Vietnam. Di Vietnam sudah mulai penuh. Ada investor yang akan menarik beberapa industri padat karya dari Vietnam ke Jawa Tengah,” kata Luthfi.

Ia menilai momentum tersebut harus dikawal bersama agar proses relokasi investasi dapat berjalan optimal. Dukungan diplomasi ekonomi melalui jaringan internasional yang dimiliki BKSAP dinilai menjadi salah satu kunci untuk mempercepat masuknya investasi baru.

Selain membuka pasar global, Luthfi menegaskan penguatan sektor logistik menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Menurutnya, kapasitas pelabuhan di Jawa Tengah belum mampu mengakomodasi tingginya arus distribusi barang.

Ia menjelaskan, kebutuhan logistik kontainer nasional mencapai sekitar 10 juta kontainer per tahun, dengan sekitar 7 juta kontainer berasal dari Jawa Tengah. Namun, hanya sekitar 30 persen yang dilayani melalui Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, sedangkan sisanya masih bergantung pada pelabuhan di Jawa Timur maupun Jakarta.

Karena itu, Pemprov Jawa Tengah mendorong revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas sekaligus pengembangan pelabuhan baru di Kendal, Batang, Rembang, dan Cilacap. Apabila belum memungkinkan, pemerintah menyiapkan pembangunan dry port di Kendal dan Batang sebagai solusi sementara.

“Kami minta didorong revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas. Kalau perlu dibuka pelabuhan di Kendal, Batang, Rembang, maupun Cilacap. Kalau itu belum memungkinkan, kami siapkan dry port di Kendal dan Batang,” ujarnya.

Luthfi menegaskan, perbaikan sistem logistik akan memperkuat daya saing investasi Jawa Tengah sekaligus menekan biaya distribusi barang.

Di tengah tantangan fiskal dan ketidakpastian ekonomi global, ia optimistis Jawa Tengah tetap mampu menarik investor. Pada triwulan I 2026, realisasi investasi di Jawa Tengah telah mencapai Rp 23 triliun dengan penyerapan sekitar 92 ribu tenaga kerja. Sementara sepanjang 2025, investasi tercatat sebesar Rp 110 triliun dengan serapan sekitar 274 ribu tenaga kerja.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait