Jateng Tetap Surplus Pangan di Tengah Ancaman Banjir, Stok Beras Aman hingga Ratusan Ribu Ton

Ketahanan pangan Jateng tetap kuat meski banjir, surplus beras capai 702 ribu ton dan mampu menopang kebutuhan nasional serta menjaga stabilitas pasokan.
SOLO, puskapik.com - Ketahanan pangan Jawa Tengah tetap kokoh meski sejumlah wilayah dilanda bencana banjir yang berpotensi memicu gagal panen. Hingga Maret 2026, neraca beras tercatat surplus ratusan ribu ton, memperkuat posisi daerah ini sebagai penopang kebutuhan pangan nasional.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan kondisi swasembada pangan tetap aman di tengah ancaman bencana yang melanda sejumlah daerah dan berdampak pada lahan pertanian.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyatakan, produksi pangan di wilayahnya masih berada pada surplus dan mampu mendukung kebutuhan nasional. Ia menyebut kontribusi sektor pertanian Jawa Tengah cukup signifikan, termasuk dalam penyediaan gabah kering.
Baca Juga: Tunggakan Ratusan Juta, SPPG Protomulyo Kendal Terancam Ditutup Sementara
“Surplus pangan kita kuat. Bahkan sekitar 15,6 persen kontribusi sawah dan gabah kering kita turut membantu kebutuhan nasional,” ujar Luthfi usai menghadiri open house HUT ke-10 Tribun Solo di Gedung Tribun News, Kota Surakarta, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, pemerintah juga telah menyiapkan skema perlindungan bagi petani yang terdampak bencana, khususnya bagi lahan yang mengalami puso atau gagal panen. Skema tersebut dilakukan melalui dukungan pembiayaan, termasuk melalui Jamkrida, agar petani tidak menanggung kerugian secara mandiri.
“Kalau ada sawah terdampak bencana, kita cover melalui Jamkrida supaya petani tetap bisa bangkit,” katanya.
Baca Juga: Pajak Reklame Kendal Baru 8,93 Persen, Bapenda Genjot Pendataan Lapangan
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, neraca pangan daerah hingga Maret 2026 masih dalam kondisi relatif aman. Surplus beras tercatat mencapai 702.409 ton.
Tak hanya beras, komoditas lain seperti daging dan telur juga mengalami surplus selama periode Januari hingga Maret 2026. Kondisi ini dinilai mampu menjaga stabilitas pasokan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, sebelumnya menyampaikan bahwa tren produksi pertanian menunjukkan perkembangan positif. Hingga awal April 2026, realisasi produksi padi telah mencapai 4.169.353 ton gabah kering giling (GKG) dari target 10.559.679 ton, atau sekitar 39,48 persen.
Sementara itu, produksi jagung dari target 3.700.000 ton telah mencapai 984.959 ton atau 26,62 persen. Adapun kedelai masih berada pada tahap awal, dengan realisasi 762 ton dari target 52.790 ton, atau sekitar 1,44 persen.
Untuk komoditas hortikultura, produksi bawang merah tercatat 144.705 ton dari target 617.015 ton (23,45 persen), sedangkan cabai mencapai 80.892 ton dari target 456.621 ton (17,72 persen). Pada sektor peternakan, produksi telur mencapai 238.154 ton dari target 917.863 ton (25,95 persen), daging 311.042 ton dari target 942.497 ton (33 persen), serta susu 17.928 ton dari target 76.570 ton (23,41 persen).
“Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi agar surplus ini bisa merata, dan menjaga stabilitas harga,” ujar Frans, sapaannya.
Dalam mendukung pencapaian target produksi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengalokasikan berbagai program strategis pada 2026. Di antaranya, bantuan benih dan sarana produksi untuk padi seluas 47.200 hektare, jagung 3.200 hektare, kedelai 3.000 hektare, cabai 310 hektare, serta bawang merah TSS seluas 25 hektare.
Artikel Terkait

Sedimentasi Waduk Mrica Banjarnegara Mengkhawatirkan, Gubernur Luthfi Turun Tangan

Pariwisata dan Ekonomi Syariah Jadi Motor Baru Pertumbuhan Jawa Tengah

Wamen PKP Puji Database Perumahan di Jateng Paling Siap Jalankan Program Kolosal 3 Juta Rumah
