Makin Dilirik Investor Global, Perusahaan India Bidik Bisnis Pertanian dan Energi Surya

Kamis, 25 Juni 2026 | 18.19
puskapik

Investor asal India menjajaki ekspansi di Jawa Tengah pada sektor pertanian dan energi surya. Pemprov Jateng siap memfasilitasi kemudahan investasi.

SEMARANG, puskapik.com - Investor asal India, J.K. Enterprises, menjajaki ekspansi investasi di Jawa Tengah dengan membidik sektor produk pertanian dan energi surya.

Perusahaan yang telah beroperasi di Indonesia lebih dari 50 tahun itu menilai Jawa Tengah memiliki potensi pasar besar sekaligus iklim investasi yang kondusif untuk pengembangan usaha baru.

Rencana tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dengan Chairman JK Enterprises, Anant Singhania, di Kantor Gubernur, Semarang, Kamis (25/6/2026).

Baca Juga: Polres Kendal Ungkap Peredaran Narkoba, Pengedar Sabu 50 Gram dan Tembakau Sintetis Ditangkap

Anant Singhania mengatakan, JK Enterprises selama ini bergerak di bidang cutting tools, hand tools, files, dan drills atau alat potong, perkakas tangan, kikir, serta mata bor.

Kini perusahaan sedang mengkaji peluang pengembangan bisnis pada sektor produk pertanian yang dinilai memiliki prospek menjanjikan di pasar domestik maupun ekspor.

“Kami sedang melihat peluang pada produk-produk pertanian karena permintaannya besar, baik di pasar domestik maupun ekspor. Kami juga mempelajari produk lain seperti solar pumps dan solar products,” kata Anant.

Baca Juga: Kabupaten Tegal Salurkan BLT DBHCHT Rp1,785 Miliar untuk 2.975 Buruh Rokok dan Petani Tembakau

Menurutnya, perusahaan telah membentuk entitas baru sejak tahun lalu sebagai langkah awal untuk memasuki bisnis produk pertanian.

Sementara itu, pengembangan lini usaha lainnya akan dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan pasar.

Terkait nilai investasi yang akan digelontorkan, Anant belum menyebutkan angka pasti.

Ia mengatakan, besaran investasi akan bergantung pada respons pasar dan perkembangan bisnis yang dijalankan perusahaan.

“Nilainya belum bisa ditentukan. Bisa beberapa juta dolar AS, bisa juga mencapai seratus juta dolar AS. Yang jelas, kami akan memulai dari skala kecil terlebih dahulu dan mengembangkannya secara bertahap sesuai perkembangan bisnis,” ungkapnya.

Selain membahas peluang investasi baru, Anant juga menyampaikan sejumlah kendala yang dihadapi perusahaan.

Di antaranya terkait sinkronisasi regulasi perizinan impor dengan klasifikasi usaha atau KBLI, serta akses pembiayaan dari perbankan karena status lahan yang masih berupa sewa jangka panjang.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait