Pasokan Pangan Diperkuat, Harga Bahan Pokok di Jateng Tetap Terkendali

Pemprov Jateng memperkuat distribusi pangan antardaerah dengan mempertemukan produsen dan offtaker guna menjaga pasokan, harga stabil, dan inflasi terkendali.
SEMARANG, puskapik.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat distribusi bahan pokok antardaerah untuk menjaga harga pangan tetap stabil dan terjangkau bagi masyarakat.
Langkah itu dilakukan dengan mempertemukan ratusan produsen dan pembeli (offtaker) serta memperluas kerja sama antardaerah guna memastikan pasokan beras, cabai, bawang merah, minyak goreng, dan komoditas strategis lainnya tetap aman.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan, penguatan distribusi pangan antardaerah menjadi kunci menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi.
Baca Juga: Bupati Tegal Tegaskan Integritas Harus Jadi Budaya Kerja, Bukan Sekadar Formalitas
Pemerintah mendorong kerja sama antardaerah (KAD) sekaligus mempertemukan produsen dengan offtaker (pembeli) agar pasokan bahan pokok penting tetap tersedia dan terjangkau bagi masyarakat.
Ahmad Luthfi mengatakan halnitu saat Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Temu Bisnis Kerja Sama Antardaerah Intra Provinsi Jawa Tengah di Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (10/6/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah itu, diikuti ratusan produsen dan offtaker komoditas pangan strategis seperti beras, cabai, bawang merah, jagung, telur, hingga minyak goreng.
Baca Juga: SPMB Online SMP Negeri 1 Bumiayu Terkendala Gangguan Server, Pendaftaran Masih Dibuka hingga 12 Juni
“Prinsip rakor ini agar terjadi kerja sama di antara para bupati, produsen, dan offtaker, sehingga ketersediaan serta keterjangkauan bahan pokok penting bagi masyarakat tetap terjaga. Output akhirnya adalah inflasi Jawa Tengah tetap terkendali,” kata Luthfi.
Menurutnya, kondisi inflasi Jawa Tengah saat ini berada dalam kondisi baik. Namun capaian tersebut harus terus dijaga di tengah berbagai tantangan, mulai dari tekanan fiskal hingga dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi rantai pasok dan harga pangan.
Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, lanjut Luthfi, Jawa Tengah harus memastikan kebutuhan masyarakat daerah terpenuhi terlebih dahulu sebelum memasok kebutuhan ke wilayah lain. Karena itu, distribusi pangan antarkabupaten/kota perlu diperkuat melalui skema aglomerasi dan kerja sama antardaerah.
“Perlu ada sinergi pemerintah daerah, stakeholder, produsen, dan offtaker. BUMD juga harus mengambil peran lebih besar untuk memperkuat distribusi pangan di daerah,” ujarnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M Nur Nugroho, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan menjaga stabilitas harga melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Menurutnya, salah satu tantangan utama pengendalian inflasi adalah efisiensi distribusi. Karena itu, pertemuan antara produsen dan offtaker menjadi langkah strategis untuk memperpendek rantai distribusi sekaligus memperluas akses pasar bagi hasil produksi petani dan pelaku usaha pangan.
“Yang kita lakukan hari ini adalah bagian dari efisiensi distribusi. Kita pertemukan para produsen bahan pangan pokok dengan para offtaker agar tercipta kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan,” katanya.
Artikel Terkait

Gubernur Luthfi: Investasi Terus Mengalir, Jateng Jadi Gerbang Baru Ekonomi Nasional

Wagub Jateng: Pendidikan Akhlak Harus Diberikan Sejak Usia Dini

Ahmad Luthfi Cek Posko SPMB dan Sekolah: Seleksi Lancar, Pelayanan Raih Bintang Lima
