Petani Kendal Dilatih Racik Obat Hama Alami dari Jagung dan Akar Bambu

Petani Kendal dilatih membuat obat hama alami dari jagung dan akar bambu, solusi murah, ramah lingkungan, dan efektif tingkatkan hasil pertanian.
KENDAL, puskapik.com - Ketergantungan petani terhadap pestisida kimia perlahan mulai dikurangi. Di Desa Pagerdawung, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal, para petani tembakau kini belajar meracik “obat” alami untuk melawan hama tanaman menggunakan bahan sederhana yang mudah ditemukan di sekitar mereka.
Melalui pelatihan yang digelar Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, puluhan petani dikenalkan pada pembuatan agen hayati berupa jamur tricoderma dan PGPR atau Plant Growth Promoting Rhizobacteria sebagai pengendali organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Baca Juga: Lepas 32 Anggota Pramuka ke Siaga Kwarda Jateng, Bupati Batang: Jangan Merasa Minder
Jamur tricoderma dibuat menggunakan media jagung giling, sedangkan PGPR dikembangkan dari akar bambu yang selama ini jarang dimanfaatkan. Kedua bahan tersebut dipilih karena murah, mudah diperoleh, dan dinilai efektif membantu tanaman melawan serangan hama maupun penyakit.
Ketua Tim Kerja Perlindungan Alat dan Mesin Perkebunan DPP Kendal, Prasetyaningsih mengatakan, penggunaan agen hayati menjadi bagian dari pengendalian hama terpadu yang lebih aman bagi lingkungan.
Baca Juga: Menjelang Waisak 2026, Momentum Kerek Ekonomi Kawasan Candi Borobudur
Menurutnya, petani tidak harus selalu mengandalkan pestisida kimia dalam mengatasi serangan hama tanaman.
“Pengendalian hama terpadu ini tidak hanya menggunakan obat-obatan kimia, tetapi lebih memanfaatkan bahan alami yang ada di sekitar kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penggunaan obat alami berbasis mikroorganisme juga membantu menjaga kesuburan tanah serta mengurangi pencemaran lingkungan akibat residu bahan kimia.
Petugas Pengendali OPT DPP Kendal, Rizki Aris Nugroho menambahkan, tricoderma dan PGPR bekerja dengan memperkuat daya tahan tanaman sekaligus menekan perkembangan jamur maupun bakteri penyebab penyakit.
Selain itu, biaya pembuatannya jauh lebih murah dibandingkan penggunaan pestisida kimia secara terus-menerus.
“Bahan-bahannya mudah ditemukan sehingga lebih hemat biaya produksi bagi petani,” jelasnya.
Sebanyak 35 petani dari Kelompok Tani Sijombor mengikuti pelatihan yang dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan tersebut. Para petani diajari mulai dari proses pembuatan hingga cara aplikasi agen hayati di lahan pertanian.
Ketua Kelompok Tani Sijombor, Muhammad Rizkin mengaku pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi petani dalam menghadapi serangan hama tanaman.


