Rob Rendam Ratusan Rumah dan Lahan Produktif di Pidodokulon Kendal, Mangrove Jadi Benteng Pesisir

Banjir rob kembali merendam sekitar 100 rumah dan lahan produktif di Desa Pidodokulon, Kendal. Warga dan pemerintah terus memperkuat tanggul serta mangrove.
KENDAL, pukspik.com - Banjir rob masih menjadi ancaman yang dihadapi masyarakat pesisir Kabupaten Kendal. Di Dusun Pilangsari, Desa Pidodokulon, Kecamatan Patebon, genangan air laut kembali merendam permukiman warga serta lahan produktif yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Sedikitnya sekitar 100 rumah yang berada di RT 02 dan RT 03 terdampak genangan rob. Selain memasuki kawasan permukiman, air laut juga menggenangi lahan pertanian, tegalan, hingga tambak ikan milik warga. Luas area yang terdampak diperkirakan mencapai 50 hingga 100 hektare.
Kepala Desa Pidodokulon, Didik Prastiawan, mengatakan fenomena rob di wilayahnya bukan persoalan baru.
Baca Juga: Sawah Harus Tetap Terjaga, Ahmad Luthfi Dorong Perlindungan 87 Persen Lahan Pertanian di Jateng
Pemerintah desa bersama masyarakat telah melakukan berbagai langkah penanganan sejak tahun 2020, mulai dari pembangunan tanggul hingga penanaman mangrove secara berkala di sepanjang kawasan pesisir.
Menurutnya, upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi dampak masuknya air laut ke wilayah permukiman dan lahan produktif warga.
Selain itu, rehabilitasi kawasan pesisir melalui penanaman mangrove juga diharapkan mampu memperkuat perlindungan alami terhadap abrasi dan rob yang terus berulang.
Baca Juga: MUI Kabupaten Tegal Prihatin Tingginya Angka Penderita HIV/ AIDS
“Penanganan terus dilakukan melalui pembangunan tanggul dan penanaman mangrove bersama warga. Ini menjadi salah satu upaya untuk menekan dampak rob yang terjadi hampir setiap tahun,” ujarnya.
Sementara itu, warga setempat, Kusmiati, mengungkapkan banjir rob mulai sering terjadi dalam lima tahun terakhir. Fenomena tersebut umumnya muncul dua kali dalam setahun, yakni sekitar bulan Mei dan September, ketika pasang air laut mencapai puncaknya.
Ia menilai keberadaan hutan mangrove yang telah ditanam selama beberapa tahun terakhir cukup membantu mengurangi dampak genangan yang masuk ke lingkungan permukiman. Mangrove dinilai mampu menahan laju air laut sekaligus mengurangi abrasi di kawasan pantai.
“Sekarang mangrove sudah banyak yang tumbuh besar. Dampaknya cukup terasa karena bisa membantu menahan air laut yang masuk ke pemukiman,” katanya.
Program penanaman mangrove di kawasan pesisir Pilangsari tidak hanya melibatkan pemerintah desa dan warga, tetapi juga didukung berbagai komunitas, organisasi lingkungan, hingga instansi pemerintah. Sebagian besar tanaman yang ditanam telah tumbuh subur dan menjadi bagian dari strategi jangka panjang menjaga kawasan pesisir.
Meski demikian, banjir rob masih menjadi tantangan serius bagi masyarakat Pidodokulon. Selain mengganggu aktivitas warga, genangan berkepanjangan juga berpotensi menurunkan produktivitas pertanian dan tambak yang menjadi penopang ekonomi masyarakat setempat.
Warga berharap upaya penanganan rob dapat terus diperkuat melalui pembangunan infrastruktur pengendali banjir pesisir, perawatan tanggul, serta perluasan kawasan mangrove. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi dampak rob yang diperkirakan masih akan terus terjadi seiring perubahan kondisi lingkungan dan meningkatnya pasang air laut di wilayah pesisir Kendal.


