Petasol Kendal Siap Dipasarkan, Terhambat Regulasi Penjualan BBM

Petasol, bahan bakar dari sampah plastik buatan TPS3R Margorejo, Kendal, belum dipasarkan luas karena belum ada regulasi. Pemkab segera siapkan Perbup
KENDAL, puskapik.com – Tumpukan jerigen berisi Petasol, bahan bakar alternatif hasil olahan sampah plastik di TPS3R Desa Margorejo, Kecamatan Cepiring, masih belum bisa dipasarkan secara luas.
Padahal, bahan bakar yang diproduksi melalui teknologi pirolisis itu telah dinyatakan memiliki kualitas setara Dexlite berdasarkan hasil uji laboratorium.
Kendala utama bukan pada proses produksi, melainkan belum adanya regulasi yang mengatur penjualan bahan bakar tersebut.
Akibatnya, Pemerintah Desa Margorejo memilih menahan pemasaran massal hingga memiliki payung hukum yang jelas.
Baca Juga: KPK Geledah Rumah Kepala DPUPR dan Dinkes Pemalang
Kepala Desa Margorejo, Suyoto, mengatakan pihaknya tidak ingin mengambil risiko menjual Petasol secara komersial sebelum aturan yang mengatur peredarannya diterbitkan.
"Karena ini produk bahan bakar, tentu harus ada regulasi yang mengaturnya. Kami tidak ingin terburu-buru kemudian justru menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari," ujarnya, Rabu (5/8/2026).
Selama ini, Petasol hanya diproduksi untuk memenuhi permintaan terbatas dari sejumlah instansi yang memanfaatkannya sebagai bahan penelitian. Harga yang dipatok sekitar Rp10 ribu per liter.
Di luar kebutuhan tersebut, Petasol justru dimanfaatkan sebagai bahan bakar mesin pirolisis untuk memproduksi Petasol berikutnya, sehingga proses produksi tetap dapat berjalan.
"Permintaan sebenarnya ada, tetapi sifatnya masih terbatas. Kami belum berani menjual bebas karena menunggu regulasi. Sebagian hasil produksi juga kami gunakan kembali untuk operasional mesin pirolisis," jelasnya.
Di balik belum dipasarkannya Petasol, TPS3R Desa Margorejo terus menjalankan proses produksi secara rutin. Setiap hari, satu unit mesin pirolisis multikondensor Gen 5.0 (Faspol 5.0) mampu mengolah sekitar 50 kilogram sampah plastik menjadi kurang lebih 30 liter Petasol.
Bahan baku berasal dari sampah plastik yang dipilah warga dan disetorkan ke TPS3R setiap pekan. Sampah kemudian diproses menggunakan metode pirolisis pada suhu sekitar 200 derajat Celsius hingga menghasilkan bahan bakar cair.
Menurut Suyoto, proses tersebut tidak sesederhana membakar sampah. Setelah keluar dari mesin pirolisis, cairan hasil olahan masih harus melalui empat tahap penyaringan hingga menghasilkan bahan bakar yang jernih dan siap digunakan.
"Prosesnya cukup panjang. Dari pagi sampai sore dilakukan pemasakan, kemudian hasilnya disaring hingga empat kali supaya kualitasnya benar-benar baik," katanya.


