Potret Inklusivitas Perayaan Imlek di Pasar Semawis, Semarang

Minggu, 15 Februari 2026 | 07.46
Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengunjungi Pasar Imlek Semawis 2026 di Kawasan Pecinan, Kota Semarang, Sabtu (14/2/2026) malam.
Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengunjungi Pasar Imlek Semawis 2026 di Kawasan Pecinan, Kota Semarang, Sabtu (14/2/2026) malam.

Pasar Imlek Semawis di Semarang menjadi simbol inklusivitas, dikunjungi Gibran Rakabuming Raka dan Ahmad Luthfi serta diramaikan berbagai etnis di Jawa Tengah.

SEMARANG, puskapik.com — Imlek tidak lagi sekadar menjadi perayaan tahun baru bagi masyarakat etnis Tionghoa, tetapi telah berkembang menjadi perayaan yang inklusif dan diramaikan oleh berbagai etnis di Jawa Tengah maupun seluruh nusantara.

Hal itu sebagaimana terlihat dalam Pasar Imlek Semawis 2026 di Kawasan Pecinan, Kota Semarang, yang dikunjungi oleh Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Sabtu, 14 Februari 2026 malam.

Pasar Imlek Semawis yang digelar dari Jalan Gang Pinggir sampai ujung Jalan Wotgandul Timur tersebut penuh sesak dengan masyarakat dari berbagai etnis, mulai dari pedagang sampai pengunjung. Keberagaman memang menjadi konsep yang ditonjolkan pada gelaran tahun ini. Sebagai bentuk kebersamaan dan kekuatan yang membuat Pasar Imlek Semawis Semarang terus hidup dan tumbuh hingga saat ini.

Baca Juga: Wapres dan Gubernur Jateng Tinjau Tanah Gerak Jangli Semarang, Proses Relokasi Disiapkan

Pengurus Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), Harjanto Halim menyatatakan, Pasar Imlek Semawis memang untuk menghidupkan tradisi di Kota Semarang untuk menyambut Imlek yang sudah ada sejak dulu.

"Dulu, orang Tionghoa saat menjelang Imlek itu belanja sampai malam, itu cuma semalam. Lalu dihidupkan kembali menjadi sebuah perayaan tiga hari menjadi Pasar Imlek Semawis. Tidak cuma jajanan pasar, saja tetapi juga ada banyak kuliner dan UMKM, pernik-pernik, acara budaya dan sosial, yang menunjukkan keberagaman di Kota Semarang," katanya.

Dalam Pasar Imlek Semawis tahun ini, panitia sengaja menghadirkan tokoh-tokoh mitos Tionghoa seperti Sun Go Kong dan Dewi Kwan Im dipadukan dengan tokoh-tokoh wayang Jawa. Pada acara pembukaan juga disediakan makanan muslim Tionghoa yang didatangkan dari Xin Jiang.

"Tahun ini kami juga mengimbau untuk mengenakan kebaya untuk pengunjungnya. Tadi memang terlihat belum banyak tapi sudah ada juga yang mulai mengenakan kebaya kalau saya lihat," ujarnya.

Harjanto menuturkan bahwa keberagaman di Pecinan Semarang sudah seperti Indonesia mini. Bahkan di kawasan Pecinan ada warung nasi ayam Bu Pini. Seorang etnis Jawa yang berjualan pakai gendongan sampai sekarang mampu membeli ruko untuk warung.

"Beliau Jawa dan bisa bersaing dengan orang Tionghoa di Pencinan. Jadi kalau enak dan harganya masuk akal ya pasti laku," tuturnya.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait