Tak Ingin Ada Anak Miskin Ekstrem Putus Sekolah, Ahmad Luthfi Siapkan Bantuan 5.000 Siswa

Rabu, 8 Juli 2026 | 15.55
puskapik

Pemprov Jateng menyiapkan bantuan pendidikan bagi 5.000 warga miskin ekstrem agar tetap bisa bersekolah di SMA dan SMK negeri maupun swasta pada tahun ajaran 2026/2027.

SEMARANG, puskapik.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem tetap terjamin.

Setelah ratusan calon murid baru tidak lolos dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) program sekolah kemitraan, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyiapkan bantuan pendidikan bagi 5.000 warga miskin ekstrem agar tetap dapat bersekolah di SMA maupun SMK negeri dan swasta.

Ahmad Luthfi mengatakan, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah telah memproyeksikan skema bantuan pendidikan bagi 5.000 warga miskin ekstrem.

Baca Juga: APBD Jateng 2025 Disetujui DPRD, Investasi Jadi Tumpuan Hadapi Tekanan Fiskal

Bantuan tersebut akan disalurkan melalui sekolah negeri maupun sekolah swasta sesuai kebutuhan.

“Catatan kita dari miskin ekstrem yang kemarin 5.000, nanti akan kita bagi ke sana. Jadi Dinas Pendidikan sudah memproyeksikan kita akan bantu 5.000 masyarakat yang miskin ekstrem. Kita bagi kepada sekolah swasta maupun sekolah negeri,” kata Luthfi usai rapat paripurna di DPRD Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemprov Jawa Tengah agar persoalan akses pendidikan bagi keluarga miskin dapat dituntaskan.

Baca Juga: Sambut Rombongan Muslimat di Rumdin, Wagub dan Istri: Kami Hanya Dititipi, Niki Dalemipun Panjenengan, Rumah Warga Jateng

Seluruh skema penyaluran bantuan telah dipetakan sehingga tidak ada anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan.

“Itu sudah kita bagi habis. Dan nanti tidak akan terjadi lagi di wilayah kita. Ini sudah kita lakukan sejak tahun 2025,” ujarnya.

Sebelumnya, sebanyak 597 calon murid baru tidak lolos seleksi dalam SPMB program sekolah kemitraan.

Pada tahun ajaran 2026, program tersebut menyediakan 5.004 kursi, namun baru terisi 3.662 siswa atau sekitar 73 persen.

Program sekolah kemitraan merupakan kebijakan Pemprov Jawa Tengah untuk memperluas akses pendidikan gratis bagi siswa dari keluarga kurang mampu melalui kerja sama dengan sekolah swasta.

Pada 2026, program itu melibatkan 139 sekolah swasta, terdiri atas 56 SMA dan 83 SMK, dengan total daya tampung 5.004 siswa.

Selain sekolah kemitraan, Pemprov Jawa Tengah juga menjalankan kebijakan sekolah gratis di seluruh SMA negeri, SMK negeri, dan SLB negeri. Pada tahun ajaran 2026/2027, kuota sekolah gratis di ketiga jenjang tersebut mencapai 231.724 siswa atau sekitar 40,83 persen dari total lulusan SMP sederajat di Jawa Tengah.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait