Tak Mau Hanya Jadi Bank Daerah, Ahmad Luthfi Dorong BPD Jadi Penggerak Ekonomi Rakyat Lewat KUR

Jumat, 17 April 2026 | 12.56
puskapik

Gubernur Jateng dorong BPD naik kelas jadi motor ekonomi daerah, fokus pembiayaan dan KUR mikro untuk perkuat ekonomi kerakyatan dan investasi.

SOLO, puskapik.com – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi terus mendorong Bank Pembangunan Daerah (BPD) untuk naik kelas sebagai motor penggerak ekonomi.

BPD tidak lagi diposisikan sekadar sebagai “kasir” pemerintah daerah, tetapi harus aktif membiayai pembangunan, menarik investasi, serta memperkuat ekonomi kerakyatan melalui kredit usaha rakyat (KUR) mikro.

Dalam Seminar Nasional Sinergi Nusantara di Hotel Sunan Solo, Jumat (17/4/2026), Ahmad Luthfi menegaskan peran strategis BPD sebagai indikator penting pertumbuhan ekonomi daerah.

Baca Juga: PKB Kota Tegal Bidik Pemilih Muda, Targetkan Lonjakan Kursi

Menurutnya, ketergantungan pada APBD dan transfer pusat sudah tidak cukup untuk menopang pembangunan.

“Bank daerah ini harus jadi penggerak ekonomi, bukan hanya menjalankan fungsi administratif,” tegasnya.

Ahmad Luthfi menekankan, keterbatasan fiskal daerah harus dijawab dengan inovasi pembiayaan dan penguatan investasi.

Baca Juga: Pemkab Brebes Dorong Kerativitas Olahan Pangan Lokal Lewat LCM B2SA

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, kata dia, mengusung pendekatan collaborative government dengan melibatkan berbagai pihak. Mulai dari pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, hingga sektor perbankan.

“Kami bukan superman. Kami super team. Semua harus digandeng untuk membangun wilayah,” ujarnya.

Untuk menarik investasi, Pemprov Jawa Tengah terus memperkuat faktor pendukung seperti keamanan, kepastian hukum, kemudahan perizinan, kesiapan tenaga kerja, hingga pengembangan kawasan industri.

Di sisi lain, perhatian besar juga diberikan pada ekonomi kerakyatan. Gubernur menegaskan, penyaluran KUR mikro harus menjadi prioritas utama, khususnya melalui Bank Jateng. Skema ini dinilai efektif melindungi masyarakat kecil dari jeratan pinjaman ilegal.

“Ekonomi kerakyatan harus kita hidupkan dengan KUR berbunga rendah. Supaya masyarakat tidak terjebak judol, pinjol, atau rentenir,” katanya.

Saat ini, penyaluran KUR di Jawa Tengah tercatat mendekati Rp 30 triliun, dengan rata-rata penyaluran sekitar Rp 7 triliun per tahun. Kinerja Bank Jateng juga dinilai solid, dengan aset mendekati Rp 100 triliun, laba sekitar Rp 1,8 triliun, serta kontribusi terhadap pembangunan daerah hampir Rp 580 miliar.

Direktur Utama Bank Jateng, Bambang Widiyatmoko, menambahkan, penurunan transfer pusat justru menjadi momentum bagi BPD untuk memperkuat peran strategisnya.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait