Target 10,5 Juta Ton Padi, Ahmad Luthfi Siapkan Jateng Hadapi Kemarau Panjang

Rabu, 24 Juni 2026 | 14.38
puskapik

Jawa Tengah menargetkan produksi padi 10,5 juta ton pada 2026. Hingga Juli, capaian mencapai 6,69 juta ton GKG dengan antisipasi kekeringan musim kemarau.

SUKOHARJO, puskapik.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menggenjot produksi padi guna mendukung target nasional sebesar 10,5 juta ton pada 2026.

Hingga periode Januari-Juli 2026, produksi padi Jawa Tengah diproyeksikan mencapai 6,69 juta ton gabah kering giling (GKG), atau 63,43 persen dari target produksi daerah tahun ini sebesar 10,56 juta ton GKG.

Capaian tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, saat menghadiri Panen Raya Padi di Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Rabu (24/6/2026).

Baca Juga: BPKAD Kabupaten Tegal Perkuat Inovasi Daerah Melalui Digitalisasi Sistem Kerja Sejak Tahun 2025

Dalam kegiatan itu, Ahmad Luthfi melakukan panen menggunakan combine harvester, meninjau pengolahan lahan pascapanen, serta berdialog dengan petani dan para pemangku kepentingan sektor pertanian.

“Jawa Tengah hari ini sudah memenuhi 6,69 juta ton. Target nasional 10,5 juta ton harus kita penuhi di akhir tahun,” kata Luthfi.

Menurutnya, panen raya tidak sekadar menjadi wujud syukur atas hasil produksi pertanian, tetapi juga momentum menyerap aspirasi petani sekaligus menyusun langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung panjang.

Baca Juga: MBG Dihentikan Sementara, Harga Cabai dan Bawang di Pasar Slawi Menurun

Ia meminta seluruh kepala daerah di Jawa Tengah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan agar target swasembada pangan tetap dapat dicapai.

“Ke depan tantangannya adalah perubahan musim dan musim kemarau yang panjang. Karena itu seluruh bupati dan wali kota harus melakukan mapping wilayah yang terdampak kekeringan agar target swasembada pangan dapat terpenuhi,” ujarnya.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Pemprov Jawa Tengah menyiapkan sejumlah langkah, antara lain pipanisasi, sumurisasi, pemanfaatan sumber air baku, hingga distribusi bantuan pompa sesuai kebutuhan di lapangan.

Dalam dialog bersama petani, berbagai aspirasi disampaikan, mulai dari kebutuhan pasokan air untuk musim tanam ketiga (MT III), jaringan listrik untuk sumur pertanian, bantuan combine harvester, alat pengolah tanah, hingga perbaikan jalan usaha tani dan saluran irigasi.

Menanggapi hal itu, Luthfi memastikan pemerintah provinsi akan mengoptimalkan dukungan sarana dan prasarana pertanian. Untuk kebutuhan alat panen, penggunaan combine harvester milik provinsi akan diatur secara bergilir sembari mengusulkan tambahan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada Kementerian Pertanian.

Selain itu, Jawa Tengah juga telah menerima sekitar 17 ribu unit pompa yang akan didistribusikan ke daerah sesuai kebutuhan untuk membantu pengairan lahan selama musim kemarau.

“Yang penting air sampai ke sawah dan kebutuhan petani terpenuhi,” tegasnya.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait