Tradisi Ingkung Warnai Malam 1 Muharam, Jamaah Padang Bulan Kendal Rajut Doa dan Kebersamaan

Rabu, 17 Juni 2026 | 14.44
Santri dan warga makan bersama 50 ekor ingkung yang disiapkan jamaah padang bulan. (edhot)
Santri dan warga makan bersama 50 ekor ingkung yang disiapkan jamaah padang bulan. (edhot)

Jamaah Padang Bulan Kendal menyambut 1 Muharam dengan istigosah, doa bersama, dan makan 50 ayam ingkung sebagai simbol syukur, kebersamaan, dan harapan baru.

KENDAL, puskapik.com – Bukan pesta kembang api atau kemeriahan hiburan yang dipilih Jamaah Padang Bulan Kabupaten Kendal dalam menyambut Tahun Baru Islam.

Mereka memilih cara yang sarat makna, yakni dengan tirakatan, istigosah, dan doa bersama sebagai bentuk refleksi diri memasuki lembaran baru kalender Hijriyah.

Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Safi’iyah Salafiah, Desa Gebang Anom, Kecamatan Kangkung, Kendal, tersebut menjadi momen berkumpulnya jamaah untuk memperkuat hubungan spiritual sekaligus mempererat tali silaturahmi.

Baca Juga: KPK Kembali Turun ke Pekalongan, 14 Saksi Diperiksa Terkait Kasus Fadia Arafiq

Malam itu, suasana pondok pesantren dipenuhi lantunan doa dan sholawat. Ratusan jamaah yang hadir tampak khusyuk mengikuti rangkaian kegiatan.

Bacaan istigosah dipanjatkan bersama, disusul sholawat yang diiringi rebana, menciptakan suasana religius dan penuh kekhidmatan.

Bagi Jamaah Padang Bulan, Tahun Baru Islam bukan hanya pergantian waktu, melainkan kesempatan untuk menengok kembali perjalanan hidup yang telah dilalui.

Baca Juga: Nanik Susanti Resmi Duduki Kursi DPRD Kendal Lewat PAW, Siap Perjuangkan Aspirasi Warga

Sekretaris Jamaah Istigosah Padang Bulan, Muhammad Muslikin mengatakan, kegiatan tersebut telah menjadi tradisi rutin yang selalu digelar setiap malam satu Muharam.

Menurutnya, melalui doa bersama ini jamaah berharap diberikan kekuatan, keberkahan, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan di tahun yang baru.

“Kegiatan ini rutin kita laksanakan setiap tahun. Tujuannya untuk bersama-sama berdoa memasuki tahun baru Islam, sekaligus sebagai sarana mempererat kebersamaan jamaah. Kita juga melakukan penggalangan dana untuk santunan anak yatim piatu,” jelas Muhammad Muslikin.

Namun ada satu tradisi yang selalu melekat dalam kegiatan tersebut. Setelah doa dan tausiyah selesai, jamaah menikmati hidangan ayam ingkung secara bersama-sama.

Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 50 ekor ayam ingkung lengkap dengan nasi dan sayuran disiapkan untuk disantap seluruh jamaah.

Bagi masyarakat Jawa, ingkung bukan sekadar makanan. Hidangan ayam utuh yang disajikan dalam acara keagamaan ini memiliki makna simbolis tentang rasa syukur, kepasrahan, serta kebersamaan.

Suasana guyub terlihat saat jamaah duduk bersama menikmati hidangan yang telah disiapkan. Tidak ada sekat antara satu dengan lainnya, semua menyatu dalam suasana kekeluargaan.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait