Tradisi Ingkung Warnai Malam 1 Muharam, Jamaah Padang Bulan Kendal Rajut Doa dan Kebersamaan

Jamaah Padang Bulan Kendal menyambut 1 Muharam dengan istigosah, doa bersama, dan makan 50 ayam ingkung sebagai simbol syukur, kebersamaan, dan harapan baru.
KENDAL, puskapik.com – Bukan pesta kembang api atau kemeriahan hiburan yang dipilih Jamaah Padang Bulan Kabupaten Kendal dalam menyambut Tahun Baru Islam.
Mereka memilih cara yang sarat makna, yakni dengan tirakatan, istigosah, dan doa bersama sebagai bentuk refleksi diri memasuki lembaran baru kalender Hijriyah.
Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Safi’iyah Salafiah, Desa Gebang Anom, Kecamatan Kangkung, Kendal, tersebut menjadi momen berkumpulnya jamaah untuk memperkuat hubungan spiritual sekaligus mempererat tali silaturahmi.
Baca Juga: KPK Kembali Turun ke Pekalongan, 14 Saksi Diperiksa Terkait Kasus Fadia Arafiq
Malam itu, suasana pondok pesantren dipenuhi lantunan doa dan sholawat. Ratusan jamaah yang hadir tampak khusyuk mengikuti rangkaian kegiatan.
Bacaan istigosah dipanjatkan bersama, disusul sholawat yang diiringi rebana, menciptakan suasana religius dan penuh kekhidmatan.
Bagi Jamaah Padang Bulan, Tahun Baru Islam bukan hanya pergantian waktu, melainkan kesempatan untuk menengok kembali perjalanan hidup yang telah dilalui.
Baca Juga: Nanik Susanti Resmi Duduki Kursi DPRD Kendal Lewat PAW, Siap Perjuangkan Aspirasi Warga
Sekretaris Jamaah Istigosah Padang Bulan, Muhammad Muslikin mengatakan, kegiatan tersebut telah menjadi tradisi rutin yang selalu digelar setiap malam satu Muharam.
Menurutnya, melalui doa bersama ini jamaah berharap diberikan kekuatan, keberkahan, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan di tahun yang baru.
“Kegiatan ini rutin kita laksanakan setiap tahun. Tujuannya untuk bersama-sama berdoa memasuki tahun baru Islam, sekaligus sebagai sarana mempererat kebersamaan jamaah. Kita juga melakukan penggalangan dana untuk santunan anak yatim piatu,” jelas Muhammad Muslikin.
Namun ada satu tradisi yang selalu melekat dalam kegiatan tersebut. Setelah doa dan tausiyah selesai, jamaah menikmati hidangan ayam ingkung secara bersama-sama.
Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 50 ekor ayam ingkung lengkap dengan nasi dan sayuran disiapkan untuk disantap seluruh jamaah.
Bagi masyarakat Jawa, ingkung bukan sekadar makanan. Hidangan ayam utuh yang disajikan dalam acara keagamaan ini memiliki makna simbolis tentang rasa syukur, kepasrahan, serta kebersamaan.
Suasana guyub terlihat saat jamaah duduk bersama menikmati hidangan yang telah disiapkan. Tidak ada sekat antara satu dengan lainnya, semua menyatu dalam suasana kekeluargaan.
Tradisi makan bersama menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Selain menguatkan kebersamaan, momen ini juga menjadi bentuk rasa syukur setelah bersama-sama memanjatkan doa.
Para jamaah memaknai Tahun Baru Islam sebagai pengingat bahwa perjalanan hidup terus berjalan. Bertambahnya tahun berarti berkurangnya usia, sehingga perlu diisi dengan perbaikan diri dan meningkatkan kedekatan kepada Sang Pencipta.
Pergantian tahun Hijriyah menjadi waktu untuk bermuhasabah, mengevaluasi berbagai kekurangan, serta berusaha memperbaiki langkah di masa mendatang.
Melalui kegiatan sederhana namun penuh makna ini, Jamaah Padang Bulan Kendal menunjukkan bahwa menyambut Tahun Baru Islam dapat dilakukan dengan memperkuat nilai spiritual, menjaga tradisi, dan merawat kebersamaan di tengah masyarakat.
Doa yang dipanjatkan bersama serta hidangan ingkung yang disantap bersama menjadi simbol harapan baru: agar tahun yang datang membawa keberkahan, keselamatan, dan kemudahan bagi seluruh jamaah serta masyarakat.
Artikel Terkait

Empat Emas dari Kolam Kramat, Atlet POSSI Kota Tegal Warming Up Menuju Porprov Jateng

1.317 Pelajar di Kabupaten Tegal Semarakkan Islamic Youth Festival JSIT Indonesia 2026

Plt Bupati Nurkholes Nostalgia Vespa di Deklarasi SOG Indonesia Chapter Pemalang
