Kuliner Lebaran di Kabupaten Pemalang : Tim Bakso vs Tim Lotek

Sabtu, 21 Maret 2026 | 09.43 WIB
Bakso dan lotek kuliner pemalang
Bakso dan lotek kuliner pemalang

Lebaran di Pemalang identik dengan kuliner usai salat Ied: bakso jadi ajang kumpul, lotek hadirkan nostalgia keluarga. Kamu tim mana?

PEMALANG, puskapik.com – Lebaran di Kabupaten Pemalang itu sederhana, tapi justru di situlah letak kemewahannya.

Bukan cuma soal toples kue isi rengginang yang menipu. Disini, ada tradisi yang hampir merata yaitu kulineran.

Bukan sembarang makan, tapi kulineran yang sudah seperti agenda resmi tak tertulis setelah salat Ied dan ziarah kubur.

Baca Juga: Tempat Tragedi Pohon Tumbang Saat Salat Idul Fitri 2025 di Komplek Alun-Alun Pemalang, Kosong Tanpa Jamaah

Jadi begini alurnya, pagi-pagi warga berangkat salat Idulfitri, lanjut sungkeman, lalu ziarah ke makam keluarga.

Khidmat, haru, dan sedikit drama keluarga. Standar Lebaran lah ya.

Tapi setelah itu, suasana berubah drastis. Dari yang tadinya penuh doa dan air mata, mendadak jadi penuh kuah dan sambal.

Setelah cukup bersalam-salaman dengan sanak saudara, langkah kaki berikutnya hampir pasti menuju warung bakso.

Baca Juga: Petasan Jumbo Meledak di Pekalongan, Rumah Hancur dan 9 Remaja Terluka

Warung bakso di Pemalang saat Lebaran itu bukan sekadar tempat makan, tapi semacam titik kumpul nasional. Mulai siang hari, kursi-kursi langsung penuh. Mereka yang datang sejenak amnesia dengan kupat dan opor ayam di rumah.

Orang-orang yang sebulan penuh menahan lapar, kini duduk manis sambil mengunyah bakso saat matahari sedang terik-teriknya dengan ekspresi yang sulit dibedakan antara lapar, memang doyan, atau balas dendam.

Kalau beruntung, dapat tempat duduk. Kalau tidak, ya siap-siap makan sambil nglémprak di lantai sekitar warung atau menunggu dengan tatapan penuh harap ke mangkuk orang lain yang hampir habis.

Selain bakso, ada satu lagi kuliner primadona yang tak kalah legendaris : lotek. Sekilas mirip gado-gado, tapi jangan berani-berani menyamakannya di depan orang Pemalang, bisa panjang urusannya, nanti dikuliahi berjam-jam.

Lotek adalah perpaduan sayuran rebus dengan bumbu kacang yang diulek dadakan—kental, pedas, manis, dan gurih dalam satu adukan yang terasa sangat “homie”.

Biasanya lotek di Pemalang disajikan dengan lontong, tahu atau tempe goreng, kadang juga gembus goreng, dan tentu saja kerupuk usel—yang entah kenapa selalu terasa lebih enak kalau dimakan saat Lebaran.

Menariknya saat Lebaran, warung lotek di siang hari sering kali bukan cuma ramai, tapi nyaris mirip pasar. Penjualnya tertutup lautan pembeli. Yang terlihat cuma tangan yang sibuk mengulek dan antrean yang melingkar.

Bagi para perantau yang mudik, lotek ini bukan sekadar makanan. Ia adalah mesin waktu. Satu suapan bisa langsung melempar ingatan ke masa kecil—ke halaman rumah, ke suara ibu di dapur, ke siang-siang yang lebih sederhana.

Bedanya dengan bakso yang jadi ajang kumpul di luar rumah, lotek justru sering dinikmati bersama keluarga di dalam rumah. Dimakan rame-rame, sambil ngobrol ngalor-ngidul, ngomongin kehidupan yang "sawang sinawang".

Tapi kadang obrolannya juga nyasar, ngomongin siapa yang sekarang sudah sukses, siapa yang masih “proses”, dan siapa yang tiap tahun ditanya, “kapan nyusul?”.

Jadi, kalau ada yang bilang Lebaran itu soal kembali ke fitrah, mungkin di Kabupaten Pemalang fitrah itu bentuknya agak unik : semangkuk bakso panas dan sebungkus pincukan lotek yang baru diulek émbok-émbok.

Jadi, kamu yang merayakan Lebaran di Kabupaten Pemalang, tim bakso atau tim lotek? **

Artikel Terkait