Ketika Harapan Menunda Kesembuhan: Bahaya Pengobatan Alternatif bagi Pasien Kanker Payudara

Banyak pasien kanker payudara masih memilih pengobatan alternatif dibanding terapi medis. Padahal, keterlambatan penanganan dapat menurunkan peluang sembuh.
Oleh : Huwaida Ghinaqeel Krisfianda
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro
Bagaimana jika keputusan yang dianggap dapat menyelamatkan justru menjadi alasan kondisi pasien semakin memburuk? Di tengah kemajuan teknologi medis yang terus berkembang, masih banyak pasien kanker payudara di Indonesia yang lebih memilih pengobatan alternatif dibandingkan penanganan medis.
Ramuan herbal, terapi tradisional, hingga metode nonmedis lainnya sering dianggap lebih aman dan minim efek samping.
Padahal, ketika pasien merasa telah menemukan “jalan kesembuhan”, sel kanker dapat terus berkembang secara diam-diam di dalam tubuh.
Akibatnya, tidak sedikit pasien baru datang ke rumah sakit ketika kanker telah memasuki stadium lanjut dan peluang kesembuhan menjadi semakin kecil.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, angka kematian akibat kanker payudara dapat terus meningkat dari tahun ke tahun.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Brebes, Minggu 7 Juni 2026 Didominasi Cuaca Cerah Berawan
Bahkan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memprediksi kasus kanker dapat meningkat hingga 70% pada tahun 2050 apabila upaya deteksi dini dan penanganan medis tidak diperkuat.
Karena itu, menjadikan pengobatan alternatif sebagai pengganti pengobatan medis bukanlah keputusan yang tepat.
Pengobatan alternatif merupakan metode pengobatan yang tidak termasuk dalam standar medis modern dan umumnya memanfaatkan bahan alami, terapi tradisional, atau berbagai cara nonmedis yang telah lama berkembang di masyarakat.
Menurut Hello Sehat, pengobatan alternatif digunakan sebagai pengganti pengobatan konvensional, sehingga berbeda dengan pengobatan komplementer yang digunakan sebagai pendamping pengobatan medis.
Di Indonesia, praktik pengobatan alternatif masih banyak digunakan dan umumnya berupa konsumsi obat herbal, jamu, atau terapi tradisional.
Pada kasus kanker payudara, pengobatan alternatif yang paling banyak dipilih masyarakat umumnya berupa terapi herbal. Di Indonesia, beberapa tanaman herbal yang cukup populer antara lain keladi tikus, mahkota dewa, daun sirsak, kunyit, dan temu putih.
Penggunaannya pun beragam, mulai dari dikonsumsi dalam bentuk rebusan, ekstrak, kapsul herbal, hingga ramuan tradisional. Kepercayaan terhadap manfaat tanaman-tanaman tersebut membuat tidak sedikit pasien memilih mencobanya sebagai upaya pengobatan kanker payudara.
Di Indonesia, keputusan untuk memilih pengobatan alternatif sering dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan ekonomi.
Banyak pasien merasa takut menjalani pengobatan medis salah satunya operasi payudara karena dianggap dapat memengaruhi identitas diri, rasa percaya diri, dan feminitas perempuan.
Dalam lingkungan masyarakat Indonesia yang masih kuat dengan budaya kolektif, keputusan pengobatan juga sering dipengaruhi keluarga atau tetangga.
Di sisi lain, faktor ekonomi juga memengaruhi masyarakat memilih pengobatan alternatif. Meskipun biaya pengobatan kanker telah ditanggung oleh BPJS Kesehatan, pasien tetap harus mengeluarkan biaya tambahan, seperti biaya transportasi, konsumsi, dan kebutuhan selama menjalani perawatan.
Bagi masyarakat dengan pendapatan terbatas, pengobatan alternatif sering kali dianggap lebih terjangkau karena pembayarannya dapat disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing.
Salah satu alasan mengapa pengobatan alternatif tidak layak dijadikan terapi utama kanker payudara adalah karena efektivitasnya belum terbukti secara klinis. Berbeda dengan operasi, kemoterapi, dan radioterapi yang telah melalui berbagai tahapan penelitian serta pengujian medis, sebagian besar metode pengobatan alternatif masih mengandalkan pengalaman pribadi saja.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Psikologi UGM menyebutkan bahwa hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa pengobatan tradisional mampu menyembuhkan kanker payudara secara efektif (Shabrina & Iskandarsyah, 2019).
Oleh karena itu, menjadikan pengobatan alternatif sebagai pilihan utama merupakan keputusan yang berisiko karena tidak didasarkan pada bukti medis yang kuat.
Meskipun sering dianggap lebih aman karena berasal dari bahan alami, pengobatan herbal yang banyak digunakan sebagai alternatif terapi kanker payudara tetap memiliki risiko efek samping yang tidak boleh diabaikan.
Banyak masyarakat beranggapan bahwa tanaman herbal tidak menimbulkan dampak negatif bagi tubuh, padahal beberapa jenis herbal yang populer justru dapat memicu gangguan kesehatan tertentu.
Berdasarkan informasi yang dari Alodokter (2024), keladi tikus dapat menyebabkan iritasi pada mulut dan saluran pencernaan apabila dikonsumsi secara tidak tepat, sedangkan biji mahkota dewa mengandung senyawa yang bersifat toksik dan berisiko menyebabkan keracunan.
Selain itu, KlikDokter (2023) menyebutkan bahwa konsumsi daun sirsak dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan saraf.
Risiko-risiko tersebut menunjukkan bahwa label “alami” tidak selalu berarti aman. Tanpa pengawasan tenaga kesehatan dan standar dosis yang jelas, penggunaan herbal sebagai pengobatan alternatif justru dapat menimbulkan masalah kesehatan baru yang memperburuk kondisi pasien kanker payudara.
Penggunaan pengobatan alternatif juga dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis dan penanganan medis yang seharusnya segera dilakukan.
Banyak pasien memilih menjalani terapi alternatif terlebih dahulu dengan harapan dapat sembuh tanpa operasi atau kemoterapi. Namun, selama waktu tersebut sel kanker tetap berkembang dan dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Penelitian yang dipublikasikan dalam FORIKES e-Journal menunjukkan bahwa penggunaan pengobatan alternatif menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pasien kanker payudara terlambat dalam memperoleh penanganan medis yang tepat (Pelima & Adi, 2023).
Akibatnya, banyak pasien baru datang ke rumah sakit ketika kanker telah berada pada stadium lanjut dan peluang kesembuhan semakin kecil.
Oleh karena itu, pengobatan alternatif tidak hanya berisiko karena belum terbukti efektif, tetapi juga dapat menghilangkan kesempatan pasien untuk memperoleh penanganan medis pada waktu yang paling menentukan.
Kecenderungan masyarakat memilih pengobatan alternatif untuk kanker payudara menunjukkan bahwa masih banyak pasien yang menghadapi dilema antara rasa takut, tekanan lingkungan, dan keterbatasan ekonomi.
Namun, alasan-alasan tersebut tidak dapat mengubah fakta bahwa hingga saat ini pengobatan medis tetap menjadi metode yang paling terbukti efektif dalam menangani kanker payudara.
Pada akhirnya, keputusan pengobatan bukan hanya soal memilih cara yang dianggap paling nyaman, melainkan memilih peluang terbaik untuk sembuh.
Ketika pengobatan alternatif dipilih untuk menggantikan terapi medis, maka yang dipertaruhkan bukan hanya waktu, tetapi juga peluang hidup pasien. **



