Strength Based BK, Menjadikan Ruang Konseling Sebagai Ruang Tumbuh Siswa

RUANG Bimbingan dan Konseling di banyak sekolah, masih sering dipersepsikan sebagai ruang yang menakutkan, yang terkadang membikin siswa cemas belum merasa aman
Oleh : Widya Ayu Marliana, M. Pd. Kons
Guru BK SMP Negeri 2 Brebes
puskapik.com - Ruang Bimbingan dan Konseling di banyak sekolah, masih sering dipersepsikan sebagai ruang yang menakutkan. Ketika seorang siswa dipanggil ke ruang BK, reaksi pertama yang muncul biasanya bukan rasa aman, melainkan cemas.
“Saya salah apa?” atau “Apakah saya akan dihukum?”. Persepsi ini bukan sekadar kesalahpahaman kecil. Itu menunjukkan bahwa wajah layanan BK di sekolah masih kerap dibayangi stigma sebagai tempat anak bermasalah, ruang pencatatan pelanggaran, atau bahkan kantor “polisi sekolah”.
Stigma tersebut perlu dikritisi secara jujur. Bimbingan dan Konseling sejatinya bukan lembaga penghukuman. Guru BK bukan aparat disiplin yang tugas utamanya mencari kesalahan siswa. Ruang BK bukan ruang interogasi. Konseling bukan proses mengadili siswa. Melainkan proses membantu mereka memahami diri, mengenali masalah, menemukan kekuatan, dan membangun cara hidup yang lebih sehat.
Baca Juga: Bupati Ischak Sambut Kedatangan Jemaah Haji Kloter Pertama, 2 Haji Asal Tegal Meninggal Dunia
Masalahnya, dalam praktik pendidikan sehari-hari, layanan BK masih sering didekati secara defisit. Artinya, siswa lebih cepat dilihat dari kekurangan dan pelanggarannya daripada dari potensi dan peluang berkembangnya.
Siswa yang sering terlambat segera dicap tidak disiplin. Siswa yang sulit duduk tenang disebut nakal. Siswa yang membolos dianggap malas. Siswa yang berkelahi langsung dicatat sebagai pembuat masalah. Padahal di balik perilaku yang tampak bermasalah, sering kali terdapat kebutuhan psikologis yang belum terbaca.
Seperti tekanan keluarga, rendahnya rasa percaya diri, kesulitan belajar, konflik pertemanan, kurangnya perhatian, atau belum berkembangnya kemampuan mengelola emosi.
Cara pandang yang hanya berpusat pada kesalahan dapat membuat sekolah kehilangan kesempatan untuk memahami siswa secara lebih utuh.
Anak yang terus-menerus diberi label negatif lama-kelamaan dapat menerima label itu sebagai identitas dirinya.
Ketika seorang anak terlalu sering disebut nakal, malas, sulit diatur, atau bermasalah, itu bisa kehilangan kepercayaan. Jika dirinya masih memiliki sisi baik yang dapat dikembangkan.
Di sinilah sekolah perlu berhati-hati. Label yang tampak sederhana bagi orang dewasa dapat menjadi luka panjang bagi siswa.
Bimbingan dan Konseling seharusnya hadir dengan wajah yang berbeda.
BK adalah layanan yang bersifat preventif, developmental, humanistik, dan memberdayakan.


