Empat Setengah Abad Berdiri, Inilah Bupati Pemalang dari Masa ke Masa

Empat setengah abad Pemalang: dari Mangoneng era Mataram hingga bupati modern, kisah kepemimpinan penuh dinamika dan perubahan.
PEMALANG, puskapik.com – Kabupaten Pemalang yang tak lama lagi akan menginjak usia 451 tahun, memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan sarat dinamika. Sejak masa kerajaan Mataram hingga era pemerintahan modern Indonesia, daerah di pesisir utara Jawa Tengah ini telah dipimpin sejumlah tokoh.
Catatan sejarah menyebutkan, Pemalang mulai dikenal sebagai wilayah administratif penting pada awal abad ke-17. Pada tahun 1622, daerah ini berada di bawah kepemimpinan R. Mangoneng, yang juga dikenal dengan nama Pangonen atau Mangunoneng.
Pusat pemerintahannya kala itu berada di Dukuh Oneng, Desa Bojongbata, dan Pemalang menjadi tanah apanage Pangeran Purbaya dari Kesultanan Mataram.
Baca Juga: Dua Desa Banjir Parah, Pemkab Pemalang Kirim Bantuan Untuk Warga
Mangoneng dikenal sebagai sosok pemimpin yang teguh dan setia kepada Sultan Agung. Ia tercatat aktif menentang keberadaan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).
Selain menjalankan roda pemerintahan, Mangoneng terlibat langsung dalam perjuangan bersenjata melawan penjajahan Belanda, menjadikannya simbol perlawanan lokal pada masa itu.
Kepemimpinan Pemalang di Era Kolonial
Memasuki masa pemerintahan kolonial, kekuasaan di Pemalang mengalami sejumlah perubahan. Pada 1652, Sunan Amangkurat II mengangkat Ingabehi Subajaya sebagai Bupati Pemalang.
Selanjutnya, pada abad ke-19, kepemimpinan daerah ini dipegang oleh beberapa tokoh, salah satunya Mas Tumenggung Suralaya, yang tercatat memiliki keterkaitan dengan Perang Jawa atau Perang Diponegoro.
Baca Juga: Imbang Lawan PPSM, PSIP Pemalang Bawa Pulang Satu Poin dari Magelang
Puncak gejolak terjadi pada tahun 1825 ketika Bupati Reksodiningrat memutuskan bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro dalam perlawanan terhadap Belanda. Keputusan tersebut berujung pada pencopotan jabatannya oleh pemerintah kolonial.
Penelusuran puskapik.com, setidaknya ada dua tokoh pemimpin Pemalang yang potretnya masih bisa disaksikan secara jelas pada laman KITLV-Leiden (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) Leiden University.
Kedua tokoh itu adalah Raden Adipati Ario Soedoro Soerohadikoesoemo dan Raden Toemenggoeng Reksa Negara.
Dalam foto itu, Raden Adipati Ario Soedoro Soerohadikoesoemo tampak berpose bersama istrinya Raden Ajoe. Keterangan foto menyebut, diprakirakan foto Raden Adipati Ario Soedoro Soerohadikoesoemo itu diambil sekitar tahun 1930.
Sementara itu pada foto Raden Toemenggoeng Reksa Negara, tampak tokoh Pemalang tersebut berpose bersama istrinya. Keterangan foto menyebut, foto itu diambil saat keduanya dalam pengasingan di Banyumas sekitar tahun 1863.
Perpindahan Pemerintahan Kadipaten
Seiring perjalanan waktu, pusat pemerintahan Pemalang juga mengalami perpindahan. Dari semula berada di Dukuh Oneng, kemudian berpindah ke kawasan Ketandan, hingga akhirnya menetap di lokasi yang kini berada di sekitar Alun-alun Kota Pemalang.
Bangunan pusat pemerintahan tersebut merupakan peninggalan kolonial Belanda yang kemudian mengalami renovasi dengan sentuhan arsitektur khas Jawa Tengah.
Pemimpin Pemalang pasca Kemerdekaan Indonesia
Setelah Indonesia merdeka, estafet kepemimpinan di Pemalang terus berlanjut. Pada masa revolusi, sejumlah tokoh seperti R. Soepangat dan K.H. Makmur tercatat memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas pemerintahan daerah.
Hingga kini, kepemimpinan di Pemalang terus berkembang seiring tantangan zaman, melanjutkan tradisi pemerintahan yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Sebagai informasi, berikut daftar Bupati Pemalang sejak masa kolonial Belanda hingga masa pemerintahan Indonesia :
Masa Kolonial Belanda :
* R.A. Soemonegoro (1862)
* R.T. Reksonegoro (15 Maret 1862 - Juni 1879)
* R.T. Soero-adikoesoemo (21 Juni 1879 - 24 Maret 1897)
* R.T.A. Soeraningrat (7 April 1897 - 21 Januari 1907)
* R.M.A. Pandji Ariodinoto (8 Maret 1908 - 24 Januari 1920, dipindah menjadi Bupati Cirebon)
* R.A.A. Soedoro Soero-adikoesoemo (18 Januari 1921 - 6 Oktober 1940)
* R.T.A. Rahardjo Soero-adikoesoemo (10 September 1941 - Oktober 1945, ditangkap dalam Peristiwa Tiga Daerah)
Masa Pemerintahan Indonesia
* R. Soepangat (20 Oktober 1945)
* K.H. Makmur (30 Desember 1945)
* Soewarno (1947 - 1948)
* Mochtar (1 Desember 1949 - 1954)
* R.M. Soemardi (1954 - 1956)
* K. Machali (1957 - 1958)
* R.M. Soemartojo (1959 - 1966)
* Drs. Rivai Yusuf (1967 - 1972)
* Drs. Soedarmo (1973 - 1975)
* Yoesoef Achmadi (1975 - 1981)
* Slamet Haryanto, BA (1981 - 1991)
* Drs. Soewartono (1991 - 1996)
* Drs. H. Munir (1996 - 2000)
* H.M. Machroes, SH (2000 - 2010)
* H. Junaedi, SH, MH (2011 - 2016)
* H. Junaedi, SH, MH (2016 - 2021)
* Mukti Agung Wibowo, ST, M.Si (26 Februari 2021 - 12 Agustus 2022)
* Mansur Hidayat, ST (2023 - 2025)
Anom Widiyantoro S.E., M.M. (2025 - Sekarang). **



