Empat Setengah Abad Berdiri, Inilah Bupati Pemalang dari Masa ke Masa

Senin, 19 Januari 2026 | 20.02
Raden Adipati Ario Soedoro Soerohadikoesoemo dan Raden Toemenggoeng Reksa Negara koleksi KITLV-Leiden (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) Leiden University.
Raden Adipati Ario Soedoro Soerohadikoesoemo dan Raden Toemenggoeng Reksa Negara koleksi KITLV-Leiden (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) Leiden University.

Empat setengah abad Pemalang: dari Mangoneng era Mataram hingga bupati modern, kisah kepemimpinan penuh dinamika dan perubahan.

PEMALANG, puskapik.com – Kabupaten Pemalang yang tak lama lagi akan menginjak usia 451 tahun, memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan sarat dinamika. Sejak masa kerajaan Mataram hingga era pemerintahan modern Indonesia, daerah di pesisir utara Jawa Tengah ini telah dipimpin sejumlah tokoh.

Catatan sejarah menyebutkan, Pemalang mulai dikenal sebagai wilayah administratif penting pada awal abad ke-17. Pada tahun 1622, daerah ini berada di bawah kepemimpinan R. Mangoneng, yang juga dikenal dengan nama Pangonen atau Mangunoneng.

Pusat pemerintahannya kala itu berada di Dukuh Oneng, Desa Bojongbata, dan Pemalang menjadi tanah apanage Pangeran Purbaya dari Kesultanan Mataram.

Baca Juga: Dua Desa Banjir Parah, Pemkab Pemalang Kirim Bantuan Untuk Warga

Mangoneng dikenal sebagai sosok pemimpin yang teguh dan setia kepada Sultan Agung. Ia tercatat aktif menentang keberadaan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).

Selain menjalankan roda pemerintahan, Mangoneng terlibat langsung dalam perjuangan bersenjata melawan penjajahan Belanda, menjadikannya simbol perlawanan lokal pada masa itu.

Kepemimpinan Pemalang di Era Kolonial

Memasuki masa pemerintahan kolonial, kekuasaan di Pemalang mengalami sejumlah perubahan. Pada 1652, Sunan Amangkurat II mengangkat Ingabehi Subajaya sebagai Bupati Pemalang.

Selanjutnya, pada abad ke-19, kepemimpinan daerah ini dipegang oleh beberapa tokoh, salah satunya Mas Tumenggung Suralaya, yang tercatat memiliki keterkaitan dengan Perang Jawa atau Perang Diponegoro.

Baca Juga: Imbang Lawan PPSM, PSIP Pemalang Bawa Pulang Satu Poin dari Magelang

Puncak gejolak terjadi pada tahun 1825 ketika Bupati Reksodiningrat memutuskan bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro dalam perlawanan terhadap Belanda. Keputusan tersebut berujung pada pencopotan jabatannya oleh pemerintah kolonial.

Penelusuran puskapik.com, setidaknya ada dua tokoh pemimpin Pemalang yang potretnya masih bisa disaksikan secara jelas pada laman KITLV-Leiden (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) Leiden University.

Kedua tokoh itu adalah Raden Adipati Ario Soedoro Soerohadikoesoemo dan Raden Toemenggoeng Reksa Negara.

Dalam foto itu, Raden Adipati Ario Soedoro Soerohadikoesoemo tampak berpose bersama istrinya Raden Ajoe. Keterangan foto menyebut, diprakirakan foto Raden Adipati Ario Soedoro Soerohadikoesoemo itu diambil sekitar tahun 1930.

Sementara itu pada foto Raden Toemenggoeng Reksa Negara, tampak tokoh Pemalang tersebut berpose bersama istrinya. Keterangan foto menyebut, foto itu diambil saat keduanya dalam pengasingan di Banyumas sekitar tahun 1863.

Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait