Penjual Genteng Pemalang Minta Gentengisasi Prabowo Gunakan Jenis Natural

Selasa, 10 Februari 2026 | 17.53 WIB
Juhri (54) penjual genteng di Desa Taman, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang menunjukan genteng natural/PUSKAPIK/ERIKO GARDA DEMOKRASI
Juhri (54) penjual genteng di Desa Taman, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang menunjukan genteng natural/PUSKAPIK/ERIKO GARDA DEMOKRASI

Penjual genteng Pemalang mendukung program gentengisasi Prabowo dan meminta penggunaan genteng natural karena dinilai lebih sejuk, ramah lingkungan, dan menekan panas.

PEMALANG, puskapik.com – Wacana program gentengisasi nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto disambut positif penjual genteng di Kabupaten Pemalang.

Wacana kebijakan itu dinilai tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi masyarakat, tetapi juga memberi manfaat kenyamanan hunian bahkan menekan pemanasan global.

Salah satu penjual genteng di Desa Taman, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Juhri (54), mengaku salut dengan gagasan Presiden Prabowo yang dinilainya berpikir jauh ke depan.

Baca Juga: Pemprov Jateng Kerahkan Pompa dan Logistik untuk Banjir Pekalongan Banjir Pekalongan, Pemprov Jateng

“Bagus sekali, memang harus seperti itu. Baru kali ini ada pemimpin yang mikirin sampai kesitu,” kata Juhri kepada puskapik.com saat ditemui di gudang gentengnya, Selasa 10 Februari 2026.

Menurutnya, penggunaan genteng sebagai atap rumah jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan atap seng atau galvalum. Juhri sendiri diketahui telah lama menekuni usaha penjualan genteng.

Selama bertahun-tahun, Juhri menjual berbagai jenis genteng, khususnya genteng tanah liat Jatiwangi asal Majalengka yang dikenal kuat, awet, dan mampu menjaga suhu rumah tetap sejuk.

Pengalamannya tersebut membuat Juhri paham betul perbedaan karakter setiap jenis atap rumah.

Dijelaskan Juhri, penggunaan atap genteng memberikan kenyamanan lebih bagi penghuni rumah karena mampu menjaga suhu ruangan tetap adem, walaupun langit terik.

Hal ini berbeda dengan rumah yang menggunakan atap seng atau galvalum yang cenderung menyerap dan memantulkan panas.

“Karena biar nyaman, adem pakai genteng, kalau seng itu panas,” ungkap Juhri.

Meski mendukung penuh program gentengisasi, Juhri mengusulkan agar pemerintah nantinya mempertegas aturan terkait jenis genteng yang digunakan dalam kebijakan tersebut.

Ia berharap genteng yang dipakai adalah genteng natural, bukan genteng berlapis keramik yang mengilap.

“Kalau bisa ada aturan jangan genteng lapis keramik yang mengkilap, itu nanti tetap saja pemanasan global, harusnya yang natural atau dop, jangan yang mengkilap,” jelas Juhri.

Juhri kemudian menyinggung perubahan kondisi cuaca di wilayah Randudongkal, Kabupaten Pemalang, yang menurutnya semakin panas dibandingkan beberapa dekade lalu.

Perubahan iklim tersebut, kata Juhri, tidak lepas dari banyaknya rumah yang beralih menggunakan atap seng atau galvalum.

“Tahun 1997 Randudongkal itu adem, sekarang itu panas, karena dihantam pakai atap galvalum. Galvalum itu sifatnya memantulkan cahaya,” terang Juhri.

Oleh karena itu, ia kembali menegaskan harapannya agar kebijakan gentengisasi benar-benar diarahkan pada penggunaan genteng natural yang dinilai lebih bersahabat dengan lingkungan.

Seperti diketahui, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mewacanakan program gentengisasi nasional yang bertujuan menyeragamkan penggunaan atap rumah.

Wacana tersebut disampaikan Prabowo dalam acara Taklimat Presiden RI pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Jawa Barat, Senin 2 Februari 2026.

“Seng ini panas untuk penghuni. Seng ini juga berkarat jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genting [atap] dari seng,” kata Presiden Prabowo Subianto.

“Saya ingin semua atap Indonesia, pakai genteng, jadi ini proyeknya adalah proyek gentengisasi seluruh Indonesia,” tegasnya.

Selain itu, Prabowo Subianto juga menyampaikan rencana agar Koperasi Desa Merah Putih ke depan dapat mengembangkan usaha pembuatan genteng sebagai salah satu unit usahanya. **

Artikel Terkait