Sudah Lebih Sebulan, Awak Kapal Asal Pemalang Masih Disandera di Somalia

Wahudinanto, warga Pemalang, masih disandera perompak di perairan Somalia bersama tiga WNI lainnya setelah kapal MT Honour 25 dibajak pada April 2026.
PEMALANG, puskapik.com – Warga Kabupaten Pemalang, Wahudinanto, hingga kini masih dalam penyanderaan perompak di wilayah perairan Somalia setelah kapal tanker MT Honour 25 yang diawakinya dibajak pada 22 April 2026.
Ia disandera bersama tiga awak kapal WNI lainnya yakni Ashari Samadikun dari Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Adi Faizal dari Bulukumba, serta Fiki Mutakin dari Bogor, Jawa Barat.
Pemerintah daerah melalui Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Pemalang terus memantau perkembangan kasus tersebut. Upaya penanganan masih menunggu langkah dan koordinasi dari pemerintah pusat.
Baca Juga: 569 ASN Kendal Resmi Jadi PNS, Formasi Kesehatan Mendominasi
Kepala Bidang Hubungan Industrial, Syarat Kerja dan Jaminan Sosial Disnaker Pemalang, Arya Dhita, mengatakan pihaknya masih terus berkomunikasi dengan instansi terkait guna memperoleh perkembangan terbaru para sandera.
"Kami Disnaker masih terus berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal KP2MI dan Direktorat Perlindungan WNI Kemenlu, jadi kita menunggu dari Kemenlu," jelas Arya Dhyta saat ditemui puskapik.com di kantornya, Kamis 4 Juni 2026.
Menurut Arya Dhyta, Disnaker Pemalang juga telah mendatangi keluarga Wahudinanto di RT 18 RW 03 Desa Cibiyuk, Kecamatan Ampelgading, setelah menerima informasi mengenai pembajakan kapal tersebut.
Baca Juga: Gubernur Luthfi Instruksikan APBD Perubahan Prioritaskan untuk Genjot Perbaikan Jalan
Berdasarkan informasi yang diperoleh, Wahudinanto berangkat berlayar sejak Januari 2026 menggunakan kapal MT Honour 25 yang mengangkut muatan solar dengan rute pelayaran Oman menuju Somalia.
Meski menjadi korban penyanderaan, Wahudinanto sempat menghubungi keluarganya melalui sambungan telepon pada 22 April 2026, sekitar dua jam setelah kapal MT Honour 25 dibajak perompak.
Saat itu ia menyampaikan bahwa kondisinya dalam keadaan baik dan sehat, masih dapat menjalankan aktivitas seperti biasa, termasuk beribadah.
Namun, komunikasi dengan para awak kapal disebut sangat terbatas karena para perompak diduga menuntut uang tebusan sebagai syarat pembebasan para sandera.
Selain empat warga negara Indonesia tersebut, terdapat belasan awak kapal dari berbagai negara lain yang juga menjadi korban pembajakan saat kapal melintas di kawasan perairan Somalia yang dikenal rawan aksi perompakan.


