Bahaya Tersembunyi dari Kayu Manis dalam “Obat Herbal” Kemasan

Senin, 11 Mei 2026 | 20.49
puskapik

Di balik aroma wangi "obat herbal" yang melegakan itu, tersembunyi risiko kerusakan organ kronis yang mengintai para konsumen setianya.

puskapik.com – Saat mengalami gejala masuk angin, batuk, atau perut mual, meminum “obat herbal” cair kemasan saset sering menjadi solusi instan bagi banyak keluarga di Indonesia.

Produk “obat herbal” siap minum yang diklaim teruji klinis ini memang terasa hangat di perut dan melegakan tenggorokan.

Rasa dan aroma khasnya sebagian besar berasal dari campuran rempah-rempah tradisional, termasuk kayu manis.

Baca Juga: Jateng Percepat Solusi Krisis Sampah, Semarang Raya Jadi Proyek Perdana Pengolahan Sampah jadi Listrik

Namun, tahukah Anda bahwa tidak semua kayu manis diciptakan sama?

Di balik aroma wangi yang melegakan itu, tersembunyi risiko kerusakan organ kronis yang mengintai para konsumen setianya.

Rahasia pahit ini terletak pada perbedaan jenis kayu manis yang digunakan.

Kayu manis Ceylon sering disebut sebagai “kayu manis asli” karena kandungan kumarinnya sangat rendah, hanya sekitar 0,004%.

Sayang, jenis kayu manis yang paling banyak beredar dan digunakan dalam industri “obat herbal” dalam kemasan di Indonesia adalah kayu manis Cassia (Cinnamomum burmannii).

Kayu manis jenis ini harganya jauh lebih murah dan aromanya lebih kuat, tetapi kandungan kumarinnya bisa mencapai 1%.

Ini berarti, kayu manis Cassia mengandung kumarin hingga 250 kali lipat lebih tinggi jika dibandingkan dengan kayu manis Ceylon.

Kumarin adalah senyawa alami yang memberi aroma khas pada kayu manis, tetapi senyawa ini bisa beracun bagi organ hati manusia jika dikonsumsi dalam jumlah banyak atau secara terus-menerus.

Baca Juga: Atlet Paralayang Asal Batang Sabet Tiga Penghargaan AFA Asian Peragliding XC League 2026 di Filipina

Badan Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) telah menyadari bahaya ini dan secara resmi membatasi asupan harian kumarin.

EFSA menetapkan batas aman konsumsi kumarin (TDI) hanya sebesar 0,1 miligram per kilogram berat badan per hari.

Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait