Inilah Sejarah Bupati Tegal Pertama Ki Gede Sebayu, Sosok Pemberani Lawan Belanda

Hari Jadi Kabupaten Tegal berakar dari sosok Ki Gede Sebayu, Bupati pertama yang dikenal berani, bijak, dan berjasa membangun Tegal serta Bendungan Danawarih.
SLAWI, puskapik.com - Hari Jadi Kabupaten Tegal tak lepas dari tokoh satu ini. Ki Gede Sebayu yang tercatat sebagai Bupati Tegal pertama. Pendiri Kabupaten Tegal ini, sosok pemberani yang mengusir Belanda memasuki wilayah Tegal.
Dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Tegal, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, Winarto menceritakan asal mula Kabupaten Tegal.
Dalam bahasa Tegalan, Winarto mengisahkan, Ko Gede Sebayu satu-satunya Kepala Kadipaten Tegal, disebut sebagai cendekiawan pemberani dan memiliki semangat juang hingga akhir hayatnya. Ki Gede Sebayu berani mengusir Belanda yang memasuki wilayah Tegal.
Baca Juga: Bapenda Kabupaten Tegal Gulirkan Diskon PBB-P2 Hingga Agustus untuk Kejar Target Rp60,6 Miliar
Itulah sebabnya rakyat Tegal begitu bertekad untuk tidak bekerja sama dengan penjajah Belanda. Tegal memiliki simbol "Banteng Loreng Binoncêngan". Artinya, bersama-sama membangun Tegal.
Ki Gede Sebayu berasal dari Kerajaan Pajang, putra Pangeran Onje atau Ki Gede Tepus Rumput, Adipati Purbalingga; dan masih mempunyai garis keturunan dengan Raja Brawijaya V, Raja Majapahit yang terakhir. Ki Gede Sebayu keturunan dari Batara Katong, Adipati Wungker Ponorogo.
Sesampainya di Tegal, Ki Gede Sebayu dan rombongan diterima oleh Ki Gede Wonokusumo, keturunan Mbah Panggung yang memerintah wilayah Tegal. Ki Gede Sebayu kemudian membagi rombongannya menjadi beberapa kelompok.
Baca Juga: Parkir di Bumiayu Resmi Dikelola Pihak Ketiga, Jukir Lama Dipastikan Tetap Dilibatkan
Satu kelompok tinggal di sebuah desa yang sekarang bernama Pesayangan, mereka terampil dalam membuat peralatan dapur. Terdapat dua kelompok yang tinggal di desa yang sekarang bernama Mejasem, yang terampil dalam membuat peralatan pertukangan.Tiga kelompok yang tinggal di desa tersebut kini disebut Pagongan, yang terampil dalam membuat tembikar, batu bata, dan genteng.
Kelompok berikutnya, yang tinggal di desa yang sekarang bernama Banjaran, terampil dalam membuat berbagai macam makanan ringan.
Kelompok terakhir adalah mereka yang tinggal di Kalisoka bersama keluarga Ki Gedé Sebayu yang dapat menenun dan unggul dalam bidang kerajinan emas atau pengemasan.
Kemudian Ki Gede Sebayu mendapat ide untuk membangun bendungan yang disebut Bendungan Danawarih, arti dari dana adalah "memberi" dan warih berarti "air". Tujuannya adalah untuk menyediakan air guna mengairi sawah sehingga hasil pertanian dapat meningkat dan membuat masyarakat sejahtera.
Cara Ki Gede Sebayu memimpin rakyat agar mampu berinteraksi dengan masyarakat dan bangsa lain adalah melalui filosofi yang sangat mirip dengan filosofi Trisanja.
Pertama, Anda harus mampu menghadirkan sesuatu yang lebih baik untuk hari yang akan Anda hadapi. Kedua, meningkatkan iman dan ketakwaannya kepada Yang Maha Kuasa. Selanjutnya, ia membangun sebuah masjid dan sebuah sekolah berasrama. Kerja keras ini membuahkan hasil setelah Ki Gede Sebayu meresmikan desa yang sekarang dikenal sebagai Kalisoka. Ketiga, percayalah pada kemampuan Anda sendiri.
Ketenaran Ki Gede Sebayu yang mampu membuat wilayah Tegal makmur dan membangun Bendungan Sungai Gung, membuat namanya sampai ke Mataram. Akhirnya, Panglima Tertinggi Mataram memberikan hadiah atau penghargaan, yaitu Ki Gede Sebayu diangkat sebagai Kepala Kadipaten Tegal. Sebuah posisi yang setara dengan Adipati atau Tumenggung. Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu, 18 Mei 1601 atau pada Rabiul Awal 1010 Hijriah, atau 1523 tahun Caka.
Artikel Terkait

Hari Jadi ke-425 Kabupaten Tegal, Bupati Ischak Ajak Masyarakat Wujudkan Perubahan Infrastruktur Hingga Pelestarian Budaya Daerah

Bapenda Kabupaten Tegal Gulirkan Diskon PBB-P2 Hingga Agustus untuk Kejar Target Rp60,6 Miliar
