Keris Peninggalan Ki Enthus Susmono Dilelang, Hasil Didonasikan untuk Korban Bencana Padasari Tegal

Lelang Karya Peduli Padasari di Tegal lelang 30 karya seni, termasuk keris pusaka Ki Enthus Susmono, untuk bantu korban bencana tanah bergerak.
SLAWI, puskapik.com - Pameran dan Lelang Karya Peduli Padasari di Gedung Rakyat Kabupaten Tegal pada Sabtu, 28 Februari 2026 malam, menyita perhatian masyarakat. Sebanyak 30 karya seni dan barang peninggalan dilelang untuk membantu korban bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal.
Dari 30 karya seni dan barang antik, salah satu yang menjadi perhatian, yakni Keris Jalak Tilam Sari milik Bupati Tegal periode 2014-2019, Almarhum Ki Enthus Susmono. Keris ini dulu kerap digunakan Ki Enthus Susmono dalam setiap kesempatan. Hingga penutupan Lelang Karya Peduli Padasari, keris yang dilelang mulai dari Rp7,5 juta itu, belum laku dilelang.
“Itu keris pusaka keluarga. Wasiatnya tidak boleh dijual kecuali untuk membantu orang. Ini saatnya saya memenuhi amanah itu,” kata Ketua Dewan Kebudayaan Daerah Kabupaten Tegal, Ki Haryo Susilo Enthus Susmono, yang juga putra dari almarhum Ki Enthus Susmono.
Baca Juga: Lelang Karya Peduli Padasari Tegal Raup Donasi Rp27.550.000, Lelang Berlanjut Melalui Online
Ki Haryo menuturkan, Lelang Karya Peduli Padasari sebagai bentuk pengabdian insan seni untuk membantu dan menyemangati warga Padasari agar bangkit dari musibah.
“Dalam rangka pameran dan lelang peduli Desa Padasari yang terkena musibah tanah bergerak, teman-teman seni dan budaya mencoba mengabdi supaya Padasari bisa bangkit. Makanya tagline-nya Seni Budaya Mengabdi, Padasari Bangkit,” kata Ki Haryo.
Ia menuturkan, terdapat sekitar 30 benda yang dilelang, mulai dari lukisan, manuskrip, benda antik, wayang, hingga keris dan sarung goyor produksi warga binaan Lapas Tegalandong, Slawi.
“Seratus persen hasil lelang ini akan didonasikan ke Padasari. Kalau tidak dapat barang lelang, masyarakat tetap bisa berdonasi lewat QRIS,” katanya.
Ia berharap kegiatan ini menjadi penguat solidaritas dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya lokal.
“Mudah-mudahan saudara-saudara kita di Padasari tidak merasa sendiri, dan seni budaya semakin berpengaruh dalam kehidupan masyarakat,” pungkasnya.


