Melawan Arus Konten Dangkal, Disperpusip Kabupaten Tegal Ajak Gen Z dan Milenial Bikin Video Konten Literasi yang Menarik

"Pembuat video konten literasi hari ini jauh lebih berat daripada sekadar menjadi pembuat video viral tanpa isi"kata Plt Kepala Disperpusip Kabupaten Tegal Hari Nugroho
SLAWI, puskapik.com - Tantangan kreator konten literasi di era digital bukan hanya soal membanjirnya informasi, melainkan bagaimana memenangkan perhatian publik di tengah kepungan konten instan berdurasi pendek yang tanpa disadari bisa menggerus daya kritis dan minat baca masyarakat.
Pernyataan ini disampaikan Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kabupaten Tegal Hari Nugroho saat membuka acara Pembekalan Lomba Video Konten Literasi di Ruang Auditorium Disperpusip, Selasa 12 Mei 2026.
Menurut Hari, menjadi pembuat video konten literasi hari ini jauh lebih berat daripada sekadar menjadi pembuat video viral tanpa isi.
Baca Juga: Kantor Staf Presiden Turun ke Tegal, Serap Aspirasi Nelayan soal BBM Mahal
Ia menganalogikan pembuat konten video literasi layaknya seorang koki masakan rendang Padang.
Sehingga, untuk menghasilkan karya yang berkualitas, diperlukan riset yang mendalam, pemilihan bahan atau data yang tepat, serta proses pengolahan atau editing dan verifikasi yang tentunya memakan waktu tidak sebentar.
"Konten kreator literasi itu seperti juru masak rendang. Butuh banyak bumbu rempah dengan takaran yang pas dan waktu mengolahnya yang lama untuk hasil yang kaya rasa dan bergizi. Masalahnya, mereka harus bersaing dengan penjual mi instan yang kita dianalogikan sebagai pembuat ‘konten dangkal’ yang hanya bermodal air mendidih dan bumbu siap saji, tapi justru ini paling laris dikonsumsi saat scrolling media sosial, meski gizinya kurang," ujar Hari.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tren konsumsi konten singkat yang serba instan tidak boleh membuat kreator literasi berkecil hati.
Sebaliknya, lanjut Hari, ini harus dijawab dengan penguatan kompetensi literasi digital, keahlian bercerita atau storytelling, dan pengemasan informasi yang estetik namun tetap memiliki nilai manfaat bagi kehidupan pengetahuan.
Selain menggali unsur kreativitas dan kemampuan teknis peserta, pelaksanaan lomba yang sepenuhnya dibiayai Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik ini menjadi sebuah gerakan untuk mengisi ruang digital lewat konten-konten yang bertanggung- jawab.
“Saya berharap narasumber bisa mengeluarkan semua rahasianya. Teknik apa yang bisa menjadikan konten literasi peserta tampil menarik. Sehingga sepulangnya dari sini, peserta bisa memperbaiki lagi kontennya untuk diunggah kembali dan dinilai juri,” pesannya.
Segmen Generasi Digital
Sementara itu, Kepala Bidang Perpustakaan Disperpusip Kabupaten Tegal Sri Handayani melaporkan kegiatan lomba video konten literasi ini menyasar segmen generasi digital native dengan jumlah peserta 43 orang.
Mereka berhasil menyisihkan puluhan pendaftar lain melalui seleksi administratif dan unggah karya.
Peserta terdiri atas kalangan pelajar 19 orang, mahasiswa 15 orang, dan umum 9 orang dengan rentang usia 17-35 tahun.


