Ratusan Korban Bencana Tanah Bergerak Padasari Tegal Kembali Tinggal di Zona Merah

Rabu, 9 September 2026 | 10.16
Korban Bencana Tanah Bergerak Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, kembali kerumah, Selasa 8 September 2026. (Dok)
Korban Bencana Tanah Bergerak Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, kembali kerumah, Selasa 8 September 2026. (Dok)

Korban tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, terpaksa kembali ke rumah rusak karena ratusan warga belum mendapat hunian sementara.

SLAWI, puskapik.com - Lokasi bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, kembali ditempati warga korban bencana.

Hal itu dikarenakan ratusan korban bencana belum mendapatkan hunian sementara (huntara). Mereka tinggal di rumahnya yang kondisinya rusak parah.

Pantauan di lapangan, lokasi bencana tanah bergerak di Padasari masih ramai warga yang beraktivitas.

Baca Juga: Kepala Diskominfo Batang Puji Setiyowati: Pelayanan Publik Berbasis Digital Terus Kita Tingkatkan

Bahkan, sejumlah warga masih beraktivitas seperti biasa, berkebun, sekolah dan aktivitas lainnya.

Kendati tak seramai pada kondisi sebelum bencana, namun warga mulai memperbaiki bangunan yang telah rusak parah. Bahkan, banyak warga yang sudah menempati rumahnya dengan kondisi memprihatinkan.

"Dari 900 rumah yang rusak, baru dibangunkan hunian sementara sekitar 450 rumah. Sisanya kebanyakan kembali kerumah lama," kata warga RT 014 RW 004 Dukuh Padasari, Aziz Khoerudin saat ditemui di lokasi bencana tanah bergerak Padasari, Selasa 8 September 2026.

Baca Juga: Kedatangan Estafet Tunas Kelapa di Pemalang Disambut Meriah Warga Pramuka

Aziz mengaku mendapatkan tempat di Huntara, namun cucunya belum mendapatkan huntara. Karena kasihan, sehingga jatah rumah anaknya yang pertama dikasihkan ke cucunya. Sementara anaknya tinggal di rumah lama yang telah ambruk. Dengan bahan seadanya, rumah lama didirikan kembali dengan menggunakan bambu.

"Saya tinggal di huntara, tapi kalau siang ke Padasari karena lahan garapan lebih dekat," katanya.

Ia mengakui, banyak warga yang kembali kerumah masing-masing. Sebagian besar ditempati untuk tinggal, karena belum mendapatkan huntara. Namun, warga lainnya memanfaatkan rumah lama yang rusak untuk menyimpan barang-barang yang tersisa dan hasil berkebun.

"Saat ini, tanah sudah tidak bergerak. Jadi, kalau air sungainya sudah jernih, maka pergerakan tanah berhenti," ujar Aziz.

Ia berharap agar korban bencana tanah bergerak di Padasari bisa mendapatkan huntara. Bahkan, keinginannya agar bisa mendapatkan hunian tetap (huntapl. Jika sudah huntap, warga akan meninggalkan rumah lama yang rusak parah.

"Kami tahu bahwa tanah di sini tidak boleh ditempati lagi, tapi karena tidak ada tempat lainnya, sehingga terpaksa kembali ke rumah lama," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, tanah bergerak di Desa Padasari yang terjadi sejak awal Februari 2026, telah merusak sekitar 900 rumah. Hingga kini, pemerintah baru menyediakan sekitar 456 huntara.

Halaman 1 dari 2