Waspadai Penularan TBC di Kabupaten Tegal, Kasus Peringkat Tertinggi 3 di Jateng

Rabu, 7 Oktober 2026 | 14.43 WIB
Bakhrun SH
Bakhrun SH

Kasus TBC di Kabupaten Tegal mencapai 2.865 penderita hingga 21 September 2026, menempatkannya di peringkat ketiga tertinggi di Jawa Tengah. Masyarakat diminta waspada.

SLAWI, puskapik.com - Masyarakat Kabupaten Tegal dan sekitarnya harus waspada dengan penularan penyakit Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Tegal. Pasalnya, Kabupaten Tegal menduduki peringkat tertinggi ketiga di Jateng.

Anggota DPRD Kabupaten Tegal, Bakhrun SH yang mengatakan, berdasarkan data hingga 21 September 2026, tercatat 2.865 penderita TBC di Kabupaten Tegal, dengan 154 orang meninggal dunia, sementara 407 penderita telah dinyatakan sembuh.

Solusi penanganan kasus TBC harus dilakukan secara terpadu, karena TBC bisa menular tetapi dapat disembuhkan jika pengobatan dijalankan sampai tuntas.

Baca Juga: Jalur Pasar-Stasiun Weleri Kendal Jadi Perhatian, PKL Diberi Imbauan Humanis

Politisi PKS itu meminta OPD terkait untuk menemukan kasus TBC sedini mungkin. Selain itu, dilakukan pemeriksaan dahak/tes molekuler untuk memastikan TBC dan membantu mengetahui resistansi obat.

"Pasien TBC harus mengikuti regimen obat dari fasilitas kesehatan sesuai jenis TBC," kata Bakhrun.

Ia meminta pada pasien TBC untuk tidak menghentikan obat ketika sudah merasa sehat karena dapat menyebabkan kegagalan pengobatan dan TBC kebal obat (TB-RO). Anggota keluarga dan orang yang sering kontak dekat dengan pasien juga perlu diperiksa.

Baca Juga: Pamit Pergi, Donna Tak Kunjung Pulang hingga Ditemukan Tewas di Bangunan Kosong di Kendal

Kontak tertentu, terutama anak-anak dan orang dengan faktor risiko, dapat membutuhkan terapi pencegahan TBC setelah dinilai tenaga kesehatan.

"Pastikan ventilasi rumah baik dan ruangan tidak terlalu padat.

Direktur Utama RSI PKU Muhammadiyah Tegal Arief Darmawan menuturkan, kasus TBC khususnya di wilayah pantura seperti Tegal, Pemalang dan Brebes kejar-kejaran masuk Top 10 kasus tertinggi di Jawa Tengah. Termasuk di RSI PKU Muhammadiyah Tegal, pasien kasus TBC juga cukup banyak.

Mendasari hal itu, agar pelayanan tetap aman dan pasien juga selamat, rumah sakit memberi akses tersendiri atau khusus bagi pasien TBC.

"Bukan maksud membeda-bedakan pasien, tapi demi keamanan semuanya. Jika pasien Infeksius (dapat menularkan), maka kami punya akses khsusus untuk mereka," terangnya.

Jika pasien tidak infeksius, kata dia, maka pihaknya juga punya akses khusus. Sementara TBC ini merupakan kasus infeksius, sehingga di RSI PKU Muhammadiyah letak poliklinik TBC berada di pojok luar agar ruang tunggu berada di ruang terbuka, bebas dan penuh cahaya matahari.

"Semuanya sudah standar sesuai World Health Organization (WHO)," jelas Arief Darmawan.

Mengenai tingkat kesembuhan TBC, menurut Arief Darmawan lebih kepada dua faktor penting yaitu pengawas minum obat dan pendidikan atau pengetahuan.

Dibeberkan Arief, faktor pengawas minum obat sangat penting karena TBC bisa sembuh kalau obat diminum secara rutin.

Sebagai seorang dokter internis atau dokter spesialis penyakit dalam yang juga menangani pasien TBC, ketika ada pasien TBC dan ingin memulai pengobatan, maka hal utama yang Arief Darmawan pastikan siapa yang mendampingi pasien.

"Pengawas minum obat menjadi poin penting untuk kesembuhan pasien TBC, apalagi mayoritas pasien TBC sudah berumur ataupun lansia sehingga ditakutkan lupa minum obat," pungkasnya. **

Artikel Terkait