Butuh Penataan Wisata Guci, Bangunan Tepi Sungai Gung Hingga Pipa Air Panas

Minggu, 25 Januari 2026 | 11.24
Bangunan di tepi Sungai Gung Desa Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal yang diterjang banjir bandang, Sabtu 24 Januari 2026.
Bangunan di tepi Sungai Gung Desa Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal yang diterjang banjir bandang, Sabtu 24 Januari 2026.

Banjir bandang di Sungai Gung, Guci, Tegal, merusak wisata dan bangunan tepi sungai, dorong penataan ulang penginapan, pipa, dan hutan sekitar.

SLAWI, puskapik.com - Musibah banjir di Sungai Gung wilayah Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal menjadi catatan tersendiri bagi Anggota DPRD Kabupaten Tegal, M Khuzaeni. Banjir yang memporak-porandakan wisata Pancuran 13, Pancuran 5 dan tiga jembatan di aliran Sungai Gung itu, butuh penataan ulang kawasan obyek wisata Guci.

"Banjir besar seperti ini mungkin akan terjadi cukup lama, karena penanaman pohon saat ini akan berimbas 10 tahun mendatang," kata M Khuzaeni yang akrab disapa Jeni saat dihubungi Minggu 25 Januari 2026.

Politisi Partai Golkar itu, menilai upaya penanaman pohon yang marak saat ini, tidak langsung berdampak pada banjir banding di Sungai Gung. Pasalnya, pohon yang bisa menahan laju air dan menguatkan tanah, harus pohon besar. Padahal, tiap pohon usia berbeda-beda. Rata-rata pohon yang mampu menahan air dan tanah bisa 5-10 tahun.

Baca Juga: Pancuran 13 dan Pancuran 5 Luluh Lantak Diterjang Banjir Bandang, Tiga Jembatan Terputus

"Selama proses ini, bangunan di tepi sungai baik itu penginapan, villa, hotel dan wahana wisata, harus ditertibkan," ujar Jeni.

Menurut dia, aturan mendirikan bangunan di tepi sungai harus dijalankan. Hal itu dimaksudkan agar lebar sungai tetap terjaga dan tidak merusak benteng-benteng sungai. Terutama, di bawah Pancuran 13 di sebelah barat yang terdapat bangunan penginapan. Lokasi itu harus segera ditangani, karena jika kembali terjadi banjir, dikhawatirkan akan longsor.

"Di Pancuran 13, dikembalikan alami seperti sebelumnya. Jangan dibangun hingga menjorok ke sungai," terang Jeni.

Baca Juga: Detik-Detik Mencekam Banjir Bandang Pulosari Pemalang, Warga Sempat Kira Gunung Slamet Erupsi

Soal pipa-pira yang mengambil air panas di Pancuran 13, Jeni menyarankan agar ditata ulang. Pipa tidak boleh melalui jalur sungai yang membuat sungai semakin sempit. Selain itu, pipa-pipa tersebut juga merusak keindahan Guci.

"Sistemnya seperti PDAM, ada bak penampung yang menyalurkan ke penginapan dan wahana wisata. Jadi, rapih dan tidak mengganggu aliran sungai," beber Jeni.

Halaman 1 dari 2
Penulis: Guntur Editor: Nia
Bagikan:

Artikel Terkait