Dampak El Nino di Kota Tegal, Ular dan Biawak Masuk Permukiman

Dampak El Nino picu kemunculan ular di permukiman warga Tegal. Perubahan habitat, berkurangnya predator, dan peningkatan tikus jadi pemicu utama.
TEGAL,puskapik.com - Dampak dari cuaca ekstrem akibat fenomena badai El Nino, kini mulai dirasakan warga. Bukan sebatas cuaca panas menyengat saja. Tapi kini hewan melata seperti berbagai jenis ular, mulai bermunculan.
Hal itu sangat dirasakan warga Kota Tegal, dalam dua pekan terakhir.
Sejumlah warga, dikejutkan dan sempat dibuat resah, karena berbagai jenis hewan melata seperti ular, mulai bermunculan di beberapa permukiman warga.
Baca Juga: Pulihkan Kawasan Hulu, Perhutani dan Relawan Tanam Pohon di Lereng Gunung Slamet
Ada yang masuk ke dalam rumah, pipa paralon pembuangan air, kandang ayam dan di selokan depan rumah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), khususnya melalui Unit Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Tegal, pun mulai kebanjiran laporan dari warga yang meminta bantuan untuk mengevakuasi hewan liar tersebut. Bahkan tak hanya kemunculan ular yang dilaporkan.
Baca Juga: Karyawan Pabrik KIK Tewas Terlindas Truk di Jalan Lingkar Kaliwungu
Tapi hewan predatornya, seperti Biawak, juga muncul di permukiman warga.
Fenomena tersebut menarik perhatian pemerhati masalah lingkungan dan ekosistem, Dr Noor Zuhri SPi MSi. Dari analisanya, fenomena meningkatnya kemunculan ular di permukiman warga, mencerminkan adanya ketidakseimbangan dalam struktur rantai makanan dan perubahan kondisi habitat.
''Kemunculan ular secara masif di kawasan permukiman biasanya bukan sekadar kebetulan. Tetapi respon biologis terhadap perubahan lingkungan. Dalam ekologi, ini dikenal sebagai disrupsi keseimbangan ekosistem atau ketimpangan tingkat tropik,'' terang dia.
ASUMSI MENARIK
Noor Zuhri yang juga Wakil Rektor IV Universitas Pancasakti (UPS) Tegal mengungkapkan sejumlah asumsi terjadinya fenomena menarik tersebut.
Asumsi pertama yang disampaikan, cuaca panas memang meningkatkan aktivitas reptil (hewan ektoterm), namun tidak otomatis meningkatkan populasi. Tapi analisa yang paling akurat, antara lain, kondisi cuaca panas, habitat kering, mangsa berpindah, berakibat ular ikut berpindah.
Asumsi kedua, kata dia, kondisi gelombang panas ekstrem, atau anomali iklim lokal akibat El Nino. Secara ilmiah, fenomena yang relevan adalah, mengakibatkan suhu tinggi, kekeringan dan perubahan kelembaban tanah.
Pada asumsi ketiga yang dia sampaikan, "Karena biawak ditangkap warga, ular jadi banyak." Asumsi itu dinilainya justru sangat logis secara ekologi. Karena Biawak adalah predator alami ular kecil, dan telur ular.



