Dampak El Nino di Kota Tegal, Ular dan Biawak Masuk Permukiman

Selasa, 14 April 2026 | 19.59 WIB
Petugas BPBD Unit Damkar Kota Tegal saat mengamankan ular yang masuk ke permukiman warga.
Petugas BPBD Unit Damkar Kota Tegal saat mengamankan ular yang masuk ke permukiman warga.

Dampak El Nino picu kemunculan ular di permukiman warga Tegal. Perubahan habitat, berkurangnya predator, dan peningkatan tikus jadi pemicu utama.

TEGAL,puskapik.com - Dampak dari cuaca ekstrem akibat fenomena badai El Nino, kini mulai dirasakan warga. Bukan sebatas cuaca panas menyengat saja. Tapi kini hewan melata seperti berbagai jenis ular, mulai bermunculan.

Hal itu sangat dirasakan warga Kota Tegal, dalam dua pekan terakhir.

Sejumlah warga, dikejutkan dan sempat dibuat resah, karena berbagai jenis hewan melata seperti ular, mulai bermunculan di beberapa permukiman warga.

Baca Juga: Pulihkan Kawasan Hulu, Perhutani dan Relawan Tanam Pohon di Lereng Gunung Slamet

Ada yang masuk ke dalam rumah, pipa paralon pembuangan air, kandang ayam dan di selokan depan rumah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), khususnya melalui Unit Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Tegal, pun mulai kebanjiran laporan dari warga yang meminta bantuan untuk mengevakuasi hewan liar tersebut. Bahkan tak hanya kemunculan ular yang dilaporkan.

Baca Juga: Karyawan Pabrik KIK Tewas Terlindas Truk di Jalan Lingkar Kaliwungu

Tapi hewan predatornya, seperti Biawak, juga muncul di permukiman warga.

Fenomena tersebut menarik perhatian pemerhati masalah lingkungan dan ekosistem, Dr Noor Zuhri SPi MSi. Dari analisanya, fenomena meningkatnya kemunculan ular di permukiman warga, mencerminkan adanya ketidakseimbangan dalam struktur rantai makanan dan perubahan kondisi habitat.

''Kemunculan ular secara masif di kawasan permukiman biasanya bukan sekadar kebetulan. Tetapi respon biologis terhadap perubahan lingkungan. Dalam ekologi, ini dikenal sebagai disrupsi keseimbangan ekosistem atau ketimpangan tingkat tropik,'' terang dia.

ASUMSI MENARIK

Noor Zuhri yang juga Wakil Rektor IV Universitas Pancasakti (UPS) Tegal mengungkapkan sejumlah asumsi terjadinya fenomena menarik tersebut.

Asumsi pertama yang disampaikan, cuaca panas memang meningkatkan aktivitas reptil (hewan ektoterm), namun tidak otomatis meningkatkan populasi. Tapi analisa yang paling akurat, antara lain, kondisi cuaca panas, habitat kering, mangsa berpindah, berakibat ular ikut berpindah.

Asumsi kedua, kata dia, kondisi gelombang panas ekstrem, atau anomali iklim lokal akibat El Nino. Secara ilmiah, fenomena yang relevan adalah, mengakibatkan suhu tinggi, kekeringan dan perubahan kelembaban tanah.

Pada asumsi ketiga yang dia sampaikan, "Karena biawak ditangkap warga, ular jadi banyak." Asumsi itu dinilainya justru sangat logis secara ekologi. Karena Biawak adalah predator alami ular kecil, dan telur ular.

Akibatnya, jika predator berkurang, maka populasi mangsa meningkat. Kondisi itu kerap disebut Predator Release Effect.

Dari ketiga asumsi yang disampaikan, Noor Zuhri berpendapat, fenomena tersebut pasti bukan disebabkan satu faktor.

Melainkan kombinasi beberapa faktor. Beberapa faktor yang disampaikan, antara lain, seperti faktor iklim (Kemunculan El Niño).

Itu berdampak, kondisi suhu meningkat, kelembaban turun, sumber air berkurang dan Vegetasi menggering.

Salah satu akibat yang ditimbulkan, tikus keluar dari habitat. Kemudian ular mengikuti tikus untuk dijadikan mangsa.

KONDISI EKOLOGI

Faktor berikutnya, yang menimbulkan kemunculan ular atau ular memburu tikus, adalah kondisi Ekologi. Yakni, mulai hilangnya predator ular.

Dia mencontohkan keberadaan Biawak. Jika predator ular itu mulai berkurang, maka akan terjadi ledakan populasi spesies tertentu seperti kemunculan ular di habitat baru.

Perubahan Lingkungan dinilainya pula sebagai faktor pendukung. Sebagai contoh, keberadaan lahan kosong yang telah berubah menjadi bangunan.

Semak dibersihkan, drainase rusak, dan sampah menumpuk. Dampaknya meningkatkan populasi tikus, yang menjadi santapan utama ular.

Hal penting yang tak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan adalah Faktor Musiman. Di Indonesia, kata dia, kemunculan ular biasanya meningkat saat awal musim kemarau (Ular mencari tempat lebih lembab).

Kemudian saat musim panas ekstrem, dan masa reproduksi. Biasanya rumah yang dihuni warga sering memenuhi ketiga kebutuhan itu.

Karena itulah, dia mengayunkan salah satu kesimpulannya, kemunculan ular di sejumlah permukiman warga, kemungkinan besar, bukan disebabkan karena satu faktor tunggal.

Melainkan disebabkan kombinasi pengaruh El Niño (cuaca panas dan kering). Kemudian berkurangnya predator alami (Biawak), peningkatan populasi tikus, perubahan habitat dan lingkungan, serta aktivitas manusia.

''Dilihat dari perspektif ilmiah, terjadi ketimpangan Ekosistem. Fenomena ini adalah contoh klasik, ketidakseimbangan ekosistem akibat tekanan lingkungan. Karena itulah, salah satu solusinya adalah kebersihan lingkungan perlu dijaga, dan keberadaan predator alami seperti Biawak, dapat diseimbangkan populasinya. Jangan diberantas habis. Karena bila sudah tak ada predator alami, akan memberi peluang besar bagi ular bebas berkeliaran, memburu mangsanya,'' terang Dr Noor Zuhri SPi MSi. **

Artikel Terkait