Digital Detox Jadi Cara Mengatur Penggunaan Ponsel

Kesehatan mental di era digital perlu dijaga dengan membatasi penggunaan ponsel. Simak tips digital detox agar tetap terhubung tanpa berlebihan.
TEGAL, puskapik.com - Penggunaan ponsel dan media sosial telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Mulai dari bekerja, mencari hiburan, hingga berkomunikasi dengan keluarga dan teman, berbagai kebutuhan kini dapat dilakukan melalui perangkat digital.
Namun, penggunaan dunia digital secara berlebihan dapat berdampak pada kondisi mental. Terlalu lama berselancar di media sosial, misalnya, dapat memicu kecemasan, kelelahan mental (burnout), hingga Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan khawatir tertinggal informasi, tren, atau aktivitas yang dilakukan orang lain.
Baca Juga: 75,4 Juta Liter Air Bersih Sudah Disalurkan ke Wilayah Kekeringan Jateng
Jika seseorang mulai merasa mudah lelah, sulit berkonsentrasi, atau terus-menerus memeriksa ponsel setiap kali menerima notifikasi, kondisi tersebut dapat menjadi tanda perlunya mengatur kembali penggunaan perangkat digital.
Dikutip dari Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan RI, detoks digital dengan mengurangi paparan perangkat digital dapat menjadi salah satu upaya untuk memberikan jeda dari aktivitas digital.
Jeda tersebut dapat membantu seseorang kembali melakukan aktivitas di dunia nyata tanpa terus bergantung pada penggunaan media sosial.
Baca Juga: Sidak Proyek Revit di Banjarhajo, Komisi IV DPRD Brebes Temukan ini
Melakukan digital detox bukan berarti harus berhenti menggunakan ponsel sepenuhnya. Koneksi dengan keluarga, rekan kerja, maupun kebutuhan penting lainnya tetap dapat dijaga dengan mengatur batas penggunaan perangkat.
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
1. Batasi Waktu, Bukan Putus Hubungan
Langkah pertama adalah mengatur batas waktu penggunaan aplikasi, terutama media sosial dan permainan. Pengguna dapat memanfaatkan fitur Screen Time pada perangkat iOS atau Digital Wellbeing pada Android.
Misalnya, penggunaan aplikasi media sosial dapat dibatasi maksimal satu jam dalam sehari. Sisa waktu dapat dimanfaatkan untuk beristirahat atau melakukan aktivitas di luar layar.
2. Aktifkan Mode Jangan Ganggu
Notifikasi yang muncul terus-menerus dapat mengganggu konsentrasi dan waktu istirahat. Saat bekerja, makan bersama keluarga, atau menjelang tidur, pengguna dapat mengaktifkan mode Do Not Disturb atau Jangan Ganggu.
Pengaturan tersebut tetap dapat disesuaikan sehingga panggilan dari kontak penting, seperti keluarga atau rekan kerja, tetap bisa diterima.
3. Buat Area Bebas Gawai
Tentukan tempat atau waktu tertentu sebagai area bebas gawai. Kamar tidur dan meja makan dapat menjadi pilihan untuk memulai kebiasaan tersebut.
Mengurangi penggunaan ponsel menjelang tidur juga dapat membantu menciptakan suasana yang lebih tenang dan mendukung waktu istirahat.
4. Pilah Pertemanan di Media Sosial
Pengguna juga dapat meninjau kembali akun yang diikuti. Akun yang sering memunculkan perasaan tidak nyaman atau emosi negatif dapat di-unfollow atau di-mute.
Sebaliknya, pilih konten yang memberikan informasi, edukasi, hiburan, maupun inspirasi yang sesuai dengan kebutuhan.
5. Alihkan Waktu Layar dengan Aktivitas Fisik
Waktu yang biasanya digunakan untuk bermain ponsel dapat dialihkan ke aktivitas lain, seperti berolahraga ringan, membaca buku, memasak, berkumpul bersama keluarga, atau berjalan-jalan.
Aktivitas tersebut dapat menjadi kesempatan untuk beristirahat dari paparan layar sekaligus menikmati interaksi secara langsung.
Pada akhirnya, digital detox bukan berarti memusuhi teknologi atau menghilangkan seluruh koneksi digital. Langkah ini lebih kepada mengatur penggunaan teknologi agar tetap seimbang dengan kebutuhan istirahat dan aktivitas di dunia nyata.
Dengan penggunaan perangkat digital yang lebih terkontrol, masyarakat tetap dapat menjaga koneksi penting dengan keluarga, teman, maupun pekerjaan tanpa harus terus-menerus terpaku pada layar. **
Imam Hidayat Siswa PKL SMK Binus Kabupaten Tegal



