Eliminasi TBC, Tracing Terintegrasi CKG Sasar 7.700 Warga Kota Tegal

Senin, 27 Juli 2026 | 19.25
Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, menyerahkan secara simbolis skrining kit TBC kepada Camat Margadana, Ary Budi Wibowo, Senin 27 Juli 2026.
Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, menyerahkan secara simbolis skrining kit TBC kepada Camat Margadana, Ary Budi Wibowo, Senin 27 Juli 2026.

Pemkot Tegal mengintegrasikan tracing TBC dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk menjangkau 7.700 warga berisiko sekaligus mempercepat deteksi dini dan eliminasi TBC.

TEGAL, puskapik.com - Pemerintah Kota Tegal mulai mengakselerasi upaya eliminasi tuberkulosis atau TBC, dengan meluncurkan program tracing TBC terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis atau CKG.

Program ini menargetkan 7.700 warga yang merupakan kontak serumah, kontak erat, hingga kelompok berisiko.

Peluncuran dilakukan dalam kegiatan koordinasi pengendalian penyakit sekaligus pengukuhan Kelurahan Siaga TBC di Premiere Hotel Tegal, Senin 27 Juli 2026.

Baca Juga: Wakil DPRD Pemalang Wardoyo Optimis Mas Dar Pimpin BGN Lebih Baik

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tegal, M Zaenal Abidin mengatakan, integrasi tracing dengan CKG menjadi strategi baru untuk mempercepat penemuan kasus sekaligus memperluas layanan kesehatan.

"Kontak serumah dan kontak erat tidak hanya dilacak, tetapi juga mendapatkan skrining kesehatan secara komprehensif," kata Zaenal.

Baca Juga: Pimpin YLC PERADI Pemalang, Ganang Siap Perkuat Profesionalisme Advokat Muda

Program ini akan berjalan mulai Juli hingga November 2026 dengan cakupan 77 lokus di seluruh kelurahan.

Selain meningkatkan deteksi dini, pendekatan ini juga diharapkan mampu menekan stigma terhadap penderita TBC di masyarakat.

Sekretaris Daerah Kota Tegal, Agus Dwi Sulistyantono mengungkapkan, capaian penemuan kasus TBC dalam dua tahun terakhir sebenarnya melampaui target nasional.

Pada 2024, ditemukan 3.387 kasus atau 221 persen dari target, sementara 2025 mencapai 2.890 kasus atau 189 persen.

Namun, hingga Semester I 2026, capaian baru menyentuh 1.184 kasus atau sekitar 51 persen dari target tahunan sebanyak 2.322 kasus.

"Perlu percepatan pada semester II melalui skrining masif, investigasi kontak, serta integrasi layanan seperti CKG," ujar Agus.

Agus juga menyoroti belum meratanya capaian skrining di tingkat puskesmas dan kelurahan.

Sejumlah wilayah bahkan masih berada di bawah 50 persen dari target, sehingga membutuhkan penguatan peran lintas sektor hingga tingkat RT/ RW dan kader kesehatan.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait