Membludak, IGD RSUD Dr Soeselo Slawi Gunakan Sistem Triase

Jumat, 3 Oktober 2025 | 00.36 WIB
puskapik

SLAWI, puskapik.com - Instalasi Gawat Darurat atau IGD di RSUD Dr Soeselo Slawi, Kabupaten Tegal menerapkan sistem Triase ATS atau Australia Triage Scale. Sistem ini dilakukan dengan skala (prioritas)...

SLAWI, puskapik.com - Instalasi Gawat Darurat atau IGD di RSUD Dr Soeselo Slawi, Kabupaten Tegal menerapkan sistem Triase ATS atau Australia Triage Scale. Sistem ini dilakukan dengan skala (prioritas) lima tingkat yang digunakan di IGD. "Sistem Triase untuk mengkategorikan pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan," kata Direktur RSUD dr Soeselo Kabupaten Tegal, Guntur Muhammad Taqwin melalui Kabid Pelayanan dan Keperawatan RSUD dr Soeselo Kabupaten Tegal, Hermi Srimanti, Kamis 2 Oktober 2025. Dikatakan, sistem Triase bertujuannya untuk memprioritaskan pasien yang membutuhkan penanganan segera untuk keselamatan jiwa dan efisiensi penggunaan sumber daya medis. Saat ditanya soal dugaan pasien yang tidak mendapatkan pelayanan kurang baik, Kabid Pelayanan dan Keperawatan RSUD dr Soeselo Kabupaten Tegal Hermi Srimanti menerangkan, kondisi di IGD pada Senin 29 September 2025 sekitar pukul 19.30 WIB, penuh bahkan sampai ada pasien yang menunggu agar bisa masuk ke ruangan. Ketika ada pasien datang ke IGD, Satpam selalu mencatat urutan pasien untuk masuk, namun ketika dalam kondisi gawat darurat, maka akan langsung diutamakan tanpa melihat urutan kehadiran. "Saat itu, brankar atau tempat tidur beroda atau ranjang darurat yang ada sudah habis terpakai pasien, termasuk kursi roda yang hanya ada satu unit juga sudah digunakan pasien," ujarnya. Menurut Hermi Srimanti, satu kursi roda yang ada di IGD fungsinya digunakan untuk mobilisasi jika pasien membutuhkan ke toilet baik buang air kecil ataupun buang air besar. "Pada saat sudah urutan atau giliran pasien atas nama Eko, sudah dipanggil oleh petugas sampai beberapa kali tapi tidak ada yang merespon. Karena menunggu lama akhirnya dilewati ke pasien urutan berikutnya, kemudian dipanggil lagi dan masih belum ada yang datang. Awalnya kami tidak tahu posisi pasien ada dimana, namun setelah diklarifikasi ternyata pasien menunggu di dalam mobil yang berada di parkiran. Keluarga kemungkinan tidak mendengar ketika nama pasien disebut. Intinya terjadi miskomunikasi antara kami dengan pasien sampai akhirnya dianggap lamban," ungkap Hermi. Lebih lanjut dikatakan, pada saat pasien atas nama Eko masuk bukan prioritas satu dan dua, melainkan masuk dalam prioritas tiga yang memiliki indikasi rawat inap tetapi tidak ada kecenderungan risiko henti jantung, nafas bila tidak segera dilakukan penanganan. Adapun saat pemeriksaan awal dilakukan pasien tidak masuk emergency atau keadaan darurat. Setelah itu pihak rumah sakit menyampaikan kepada pasien bahwa ada antrean sekitar tiga orang di IGD dan yang bersangkutan bersedia menunggu. Ternyata pasien tetap menunggu di dalam mobil tapi tidak konfirmasi atau memberitahu petugas rumah sakit. "Saat giliran dipanggil untuk diperiksa, tidak ada jawaban. Akhirnya, pemeriksaan berlanjut pasien lainnya," katanya. Hermi menegaskan, tidak ada pengusiran ataupun penolakan terhadap pasien seperti yang tertulis dalam postingan akun Instagram. Termasuk istilah booking kursi roda juga tidak ada, karena memang terdapat fasilitas kursi roda di IGD tapi kegunaannya untuk mobilisasi ke toilet. "Kami selalu berusaha mengutamakan pasien. Mohon maaf karena fasilitas brankar yang terbatas. Tapi kami berusaha semaksimal mungkin ketika pasien sudah masuk atau mendapat ruangan, maka brankar langsung digunakan untuk pasien berikutnya," jelas Hermi. Menurut Hermi saat tiba di rumah sakit pasien mengeluhkan badan panas, tapi memang belum sampai diperiksa oleh dokter. Pihak RSUD dr Soeselo Kabupaten Tegal sudah berkomunikasi langsung dengan pasien melalui pesan WhatsApp dan menjelaskan kronologi yang sebetulnya terjadi. "Pihak pasien sudah menerima penjelasan dari kami melalui pesan WhatsApp," tuturnya. Sementara itu, Kabid Pelayanan Medis RSUD dr Soeselo Kabupaten Tegal dr Teguh Sukma menambahkan, prioritas lainnya yang dilakukan ketika IGD penuh tapi kondisi pasien harus ditangani dengan baik maka bekerja sama dengan rumah sakit lainnya untuk bisa menerima pasien. "Pasien tidak perlu mencari rumah sakit sendiri karena menjadi tugas atau tanggung jawab kami yang menghubungi pihak rumah sakit bila mana IGD kami tidak memungkinkan untuk menangani pasien," pungkasnya. **

Artikel Terkait